Seperti malam-malam jum’at sebelumnya di negeri Fir’aun ini,
saya, Jack dan Farhan nongkrong di warung kopi pavorit kami. Curhat, diskusi,
ketawa-ketiwi hingga larut ditemani kopi ala mesir menjadi aktifitas setiap
malam itu. Alunan musik padang pasir menciptakan syahdu dan indahnya bumi Cleopatra
di malam hari, seolah kopi dan musik mengiringi segala penat keluar dari raga,
mengalirkannya ke hilir sungai dan
mengantarkannya ke laut Mediterania. Sungguh pesona sungai Nil di malam hari
tak pernah pudar. Menyihir mata dan hati untuk berlama-lama dekat dan
memandangnya.
“Ya basya… aiz syisya bi manggo…”* teriak jack kepada pelayan
warung yang sekitar 5 meter dari dekat kami
“Haadhir….” Sahut pelayan
“Wii… gila nt jack… beneran mau nyoba?” kata si Farhan denga
nada kaget.
“Iyalah bro… masa selama di Mesir tidak pernah cobain rokok
mesir, saya penasaran rasanya”
Beberapa detik berlalu, pelayan membawa semacam pipa setinggi
60 cm, bagian bawahnya berbentuk sperti tabung kecil berisi cairan, dan di bagian
tengah pipa tertancap selang sepanjang kira-kira 60 cm. itulah tempat
penghubung pipa dengn bibir, alias tempat merasakan nikmatnya rokok mesir ini.
“Tafadhal…” kata pelayan sambil menyodorkan shisha itu ke Jack
“Syukran…”
Jack langsung menghisap ujung selang, terjadi
gelembung-gelembung di cairan bagian bawah shisha menandakan sebuah proses. Kemudian,
ia hembuskan angin dari mulutnya. Shhhh…. Gumpalan-gumpalan asap pun keluar
“Mantap bro…. mau coba?” kata Jack yang masih menutup mata
merasakan keindahan dan kenikmatan rasanya.
“Nga…”
“Nga…” kata saya dan farhan
hampir bersamaan.
“Taw nga bro… si artis nyalonin jadi ketua PPMI (Persatuan
pelajar Mahasiswa Indonesia) Mesir” kata Jack membuka dialog sambil menyapu
wajah saya dan Farhan dengan mulut masih berasap-asap.
“beneran….” Kata Farhan sedikit kaget.
“Bener… coba lihat aja di fb, pro dan kontra atas
pencalonannya sekarang Top News” Jack kembali mengisap shishanya
“Wah… patah hati, saya jadi mengundurkan diri jadi fansnya”
kata Farhan dengan raut muka kecewa dengan berita yang didengarnya.
“Kenapa nt Farhan kok tidak semangat gitu, emang apa salahnya
dengan perempuan yang mencalonkan diri sebagai ketua, ya nga yuda?” kata jack
melihatku
“Saya no coment bro” kataku sambil melemparkan pandanganku ke
sungai Nil yang penuh dengan pantulan bias-bias cahaya lampu gedung-dedung.
Selesai menyeruput kopinya kemudian meletakkan di atas meja,
Farhan berkata:
“Ia memang tidak ada salahnya bro, tidak ada larangan baik
dari sosial mau pun agama, namun tetap saja saya kurang begitu suka dengan
perempuan yang terlalu aktif di luar, perempuan yang jadi pemimpin.”
“Kok gitu, alasannya apa Far” kata si Jack dengan muka serius
“Ini tentang tipe bro, tentu kamu tahu laki-laki punya tipe
masing-masing dalam menetapkan wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Kalau saya sih inginnya wanita yang hanya aktif di rumah, aktif mengasuh
anak-anakku kelak. Jika ia seorang pemimpin tentu kecantikannya akan menjadi
milik semua orang. Dan Saya tidak ingin kecantikan istriku nanti dinikmati
semua orang. Tapi hanya saya seorang yang ingin menikmatinya.
“Wah sepertinya nt pelit Far, masa kecantikan istrinya hanya
untuk dirimu sendiri” kata si Jack dengan senyum mengembang
“Bukannya pelit bro, kan saya yang minta sama orang tuanya,
saya yang susah payah datang ke orang tuanya untuk melamar, masa untuk dinikmati
bersama. Setelah menikahi, saya juga yang berkeringat untuk memberikannya makanan.
Lagi pula saya khawatir diantara orang-orang yang melihatnya ada nafsu biadab yang menyertainya”
“Kalau saya sih tidak jadi masalah kalau perempuanku nanti aktif
diluar” kata Jack menimpali.
“Tergantung tipe seorang laki-laki bro, kalau saya suka yang
tipe seperti itu” kata Farhan mantap
“Tapi saya yakin si artis akan terpilih bro… dia cantik, cerdas,
lincah, mudah bergaul dengan siapa saja, prestasi akademiknya juga camlaude.
Kalau kamu tipe seperti apa yang kamu inginkan dari sesosok wanita yud?” kata
si jack smbil soratan matanya tertuju padaku.
“Saya….? Hmm… Belum kepikiran…
Ya… seperti malam-malam sebelumnya, obrolan dan diskusi kami
tidak jauh dari obrolan lawan jenis, saya pun bingun, tapi mungkin itu wajar
dengan usia kami yang bisa dikatakan usia remaja, usia yang sudah saatnya
memikirkan pendamping hidup. Namun kali ini saya hanya diam mendengar nama si
artis itu yang menjadi topik kami malam ini. Perempuan yang banyak menjadi bua bibir para mahasiswa Mesir karena perpaduan kecantikan, kecerdasannya dan keaktifan dalam organisasi.
*Ya pemuda, saya pesan shisha rasa mangga
#OneDayOnePost H4






Wahh...ini fiksi yaa?? Sukaa cara mendeskripsikan mesir di malam hari dan pesona sungai nil nya..kereen^^
BalasHapusItu fiksi mbak Aira... Makasih
BalasHapusMasih belajar (^_^)
Mahasiswa Al-Azhar ya mas? (Nyambung gak sih pertanyaannya?)
BalasHapusPokoknya keren lah, gak kalah sama kang Abik, hehe...
Nntikan jawabannya ditantangan ODOP minggu ke dua... He..
HapusSemoga bisa seperti kang Abik... Amien...
mesir oh mesir
BalasHapusmesir oh mesir
BalasHapusmas rahman cara follow blog nya gimana ya?
BalasHapusttp smngt nulisnya ^^
U/ follow pake komputer/laptop mbak, klu smartphone g kelihatan tombol "Join"-nya
HapusMksih sdh berkunjung... (^__^)
rokok mesir :O wkwk
BalasHapusidealny wanita yg baik mmg spt it mas (y)
Kok sy tangkapnya,farhan itu kyknya sejalan sama si mas penulis. :)
BalasHapusjangan-jangan bener d angkat dari kisah nyata author-nya *nebak xD
HapusMari kita menduga. Sebab duga adalah awal perkenalan akan suatu realita.
HapusBisa jadi... Bagaimna tanggapannya dgn se sosok farhan.. Apakah sepakat??
HapusBisa jadi... Bagaimna tanggapannya dgn se sosok farhan.. Apakah sepakat??
Hapussosok farhan adalah sosok protektif dan perfeksionis. sy sepakat ketika si farhan tdak hanya memperhatikan kehendknya terhadap istrinya. tapi juga memnuhi hak istrinya. hidup dijalani berdua. bukan ber satu. ^^
HapusEhm, karakternya farhan top dah. Nadilla tebak.. ini universitas Al-Azhar cairo, yah...
BalasHapusSecara, Nadilla rasa si penulis memang tengah ada di sana. Hehehee
Nadilla suka ceritanya, lanjutin, yah... semangat!!
Makasih mbak nadillah...
HapusMakasih mbak nadillah...
Hapus