MENYIKAPI PERPISAHAN

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan pasanganya. Susah dipasangkan dengan senang, hidup dengan mati, dan begitu pula pertemuan pasti pada akhirnya akan menemui jodohnya, perpisahan.
Berbicara tentang perpisahan, sangat identik dengan kesedihan dan air mata. Namun, Perasaan yang muncul akibat perpisahan merupakan fitrah manusia. Bahkan, hewan sekalipun akan merasa kehilangan jika berpisah dari salah satu anggota keluarganya. Ya, adanya kesedihan ketika perpisahan adalah fitrah bagi seluruh makhluk.

Kesedihan perpisahan ini pun pernah menghinggapi manusia pilihan, Muhammad SAW, ketika paman yang dikasihinya, paman yang senantiasa membela dakwahnya wafat, Abu Thalib. Tak sampai disitu kesedihan yang nabi alami, Beberapa bulan kemudian, istri yang paling dicintainya diantara para istrinya pun menyusul, Ialah Khadijah RA. Rentetan perpisahan ini sangat membuat nabi terpukul dan bersedih Sehingga tahun itu pun dalam sejarah umat islam disebut ‘Amul Khuzni (Tahun kesedihan).

Manusia selevel nabi atau rasul pun dihinggapi rasa sedih akibat sebuah perpisahan. Apalagi manusia biasa seperti saya dan kamu. Namun, seyogyanya ketika giliran kita yang dihampiri perpisahan, tak usah terlalu bersedih hati, gundah berkepanjangan. Menganggap dunia sudah berakhir. Tidak seperti itu. Perpisahan jika disikapi dengan baik akan menimbulkan efek yang luar biasa. Bisa menciptakan motivasi atau semangat. Namun, bisa juga sebaliknya.

Seorang pelajar yang merantau demi menuntut ilmu misalnya, ketika liburan usai mereka harus meninggalkan orangtua, keluarga dan kampung halaman menuju aktifitasnya sebagai pelajar. Jika disikapi dengan baik, perpisahan menjadikannya semangat belajar di perantauan. Ia belajar dengan giat dan rajin agar bisa menyelesaikan studinya dengan baik dan cepat, supaya bisa kembali pulang berkumpul dengan keluarga. membangun kampung halaman dengan ilmu yang ia dapat.

Namun, jika disikapi dengan negatif, Perpisahan akan menjadikannya sedih, belajar pun malas. Jika seperti ini, perpisahan tak bermakna sedikitpun, bahkan bisa merusak masa depannya jika ia terus-terusan bersedih, berpangku tangan tanpa berbuat apa-apa demi masa depan. Ia lupa ada keluarga yang menanti kesuksesannya.

Contoh lain Perpisahan akibat kematian. Jika disikapi dengan baik, perpisahan model seperti ini dapat menjadikan hidup lebih terarah. Dengan kematian menjadi alarm bahwa suatu saat kita pun akan meninggalkan dunia yang sementara. Akhirnya, tercipta motivasi untuk lebih giat menyiapkan bekal menghadapi kematian. Bukan hanya berfokus untuk bersedih hati.


Jadi, Tak usah risau dengan perpisahan-perpisahan sementara yang ada di dunia ini, kita semestinya risau dengan perpisahan abadi nanti di ahkirat, yaitu ketika salah satu keluarga atau bahkan kita terpisah tempat nantinya di sana, neraka dan surga. Na’udzu billah…

2 komentar: