“Para santri huffadz
harap segera kumpul di bagian depan shaf pertama….!!!” Suara terdengar dari
pengeras suara masjid. Para santri yang berjumlah sekitar tujuh pulah orang
segera membentuk tiga shaf di bagian shaf depan masjid. Para mustami termasuk
diriku mengambil posisi duduk di depan menghadap para santri, aku duduk di
samping pimpinan pondok Ag. Yahya diikuti mastami lain.
“wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh…” serentak dari para
santri menjawab
“para santri yang saya banggakan dan cintai, malam ini kita tidak
langsung pulang tetapi beberapa menit kemudian kita akan mendengarkan pemaparan
singkat tentang tips dan trik meghafal Al-Qur’an dengan cepat, Syukur
Alhamdulillah di tengah-tengah kita telah hadir salah satu alumni dari sini
yang mampu menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz kurang dari setahun. Saya
harap apa yang dipaparkan Ustadz Hisyam dapat menjadi motivasi bagi kalian
semua”
Sejenak suasana menjedi hening tanpa suara, para santri terdiam
dengan pandangan tersorot padaku, mungkin mereka sudah tahu bahwa yang dimaksud
adalah aku. Hatiku sedikit terganggu dengan gelar yang disandangkan, gelar ustadz masih jauh dengan keilmuan yang aku
miliki, aku tidak bisa berkata apa-apa, “Ya… Allah ampuni hambamu” lirihku
dengan hati. aku mengambil microfon di depanku.
“rabbi israhlii shadrii wa yassirlii amrii wahlul uqdatan min li
saani yafqahuu qaulii” aku memulai dengan do’a nabi musa
diajarkan Allah ketika hendak mendakwai fir’aun.
“assalamu alaikum warahmatullahi wabarakaatuh…”
“wa’alaikum salam warahamatullah wabarakaatu…” jawab para santri
semangat
“siapa yang ingin menjadi keluarga Allah di dunia? Siapa yang
ingin menghadiahkan surga kepada orang tuanya?? Siapa yang ingin hidupnya
dijamin oleh Allah??”
Aku buka dengan pertanyaan-pertanyaan memancing semangat dan
menarik perhatian para santri, dalam dunia publik speaking diajarkan cara agar
audience memperhatikan apa yang ingin kita bicarakan salah satu triknya yaitu
membuka dengan melontarkan pertanyaan.
“kami……..” sorak para huffadz dengan semangat.
Kemudian aku menjelaskan keutamaan-keutamaan para penghafal
Al-Qur’an. aku sampaikan bahwa para penghafal Al-Qur’an adalah keluarga Allah
di dunia, di dunia akan dijamin oleh Allah kehidupannya baik dalam segala hal,
di akhirat mereka akan memberikan mahkota kepada orang tuanya dan diizinkan
oleh Allah untuk memberikan hadia surga kepada sepuluh keluarganya. Para santri
dengan khusu mendengarkan dalil-dalil yang aku sampaikan dari Al-Qur’an dan
Hadits. Pimpinan dan para mustami' diam dan sesekali menganggukkan kepala. Beberapa
menit berlalu,
"mungkin sekian yang bisa saya sampaikan, semoga bisa
dimengerti dan menjadi motivasi kita bersama dalam melahap kalam-kalam ilahi, assalamu alaikum warahmatullah
wabarakatuh"
"wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh"
"anak-anakku para santri, demikianlah pemaran oleh salah satu
alumni terbaik disini, sebelum menutup pertemuan kita, apa ada yang ingin
ditanyakan?" kata pimpinan setelah aku serahkan microfon kepada beliau.
Salah satu santri mengangkat tangan kanannya kemudian bertanya
“maaf ustadz, saya ingin bertanya… bagaimana caranya bisa hafal
al-Qur’an dengan Cepat kurang dari setahun, mungkin ada wirid-wirid tertentu
atau makanan khusus???”
"saya persilakan kepada nak hisyam untuk menjawab"
“pertanyaan yang bagus, namanya siapa?” aku balik pertanya
“Adli…”
“saudara-saudaraku para santri…. Pertanyaan dari saudara kita adli
sangat menarik, coba diperhatikan baik-baik!
“menghafal Al-Qur’an kurang dari setahun Khatam tidak sesulit yang
bayangkan bahkan kalian bisa cepat daripada itu, cuma kuncinya adalah kemauan
atau niat yang kokoh diiringi dengan Istiqamah dalam melakukan proses, banyak
orang….” Jawabku melanjutkan
“punya Niat namun hanya sekedar niat, niat meraka tanpa disertai
dengan tindakan, mereka bertindak tetapi tanpa Istiqamah dalam menjalani proses
menghafal Al-Qur’an, maka hasilnya tidak ada, hasilnya kosong. Jadi kuncinya
cuma 3, Niat sekeras baja, Tindakan dan Istiqamah.
Agar niat kita bukan sekedar niat, tetapi berwujud dalam
perbuatan, pertama yang harus dilakukan, sering-seringlah membaca buku
keutamaan hafal al-Qur’an, kedua bertemanlah dengan teman yang punya semangat
untuk menghafal. Adapun mengenai makanan tertentu, kalau saya pribadi tidak
ada, dulu ketika saya seperti kalian makananku, nasi, tahu, tempe, telur dadar
dan lainnya, tidak ada yang istimewa. mengenai wirid…..” aku terdiam
sejenak
“kalian mau aku kasih wirid supaya bisa cepat hafal?? Tanyaku
dengan senyum
“Mauuu….” Antusias para santri
“wiridnya yaitu……baca TaBas berulang kali”
Para santri bingun, saling memandang satu sama lain, tergambar
pertanyaan besar di wajahnya, TaBas itu apa? Mendadak suara gaduh muncul dari
mulut santri, saling bertanya arti TaBas.
“Tenang… Tenang… jadi caranya ambil wudhu, kemudian baca TaBas,
kalian tahu arti TaBas??
“Tidaaaaakk” sorak santri
“Tabas yaitu…..TA’awudz dan BAsmalah”.
“Ya….. “para santri tersenyum dengan rauk agak kecewa.
“saudaraku sekalian, tak usah mengandalkan wirid, banyak yang
mengatakan baca ini, baca itu supaya cepat hafal. namun kenyataannya hafalan
tidak nambah-nambah, bagaimana mau nambah? dia harus baca wirid dulu beberapa
ribu kali sebelum nambah hafalan, setelah pembacaan wirid selesai waktu pun
berlalu, masa untuk menghafal habis, dikorupsi oleh wirid-wirid yang telah
dibaca, maka kalau kalian ingin seperti saya perbanyak baca Ta…Bas, artinya
segera hafal ayatnya, tidak perlu wirid. Segera masukkan kalam Allah itu ke
dalam hati kalian. Jadi perbanyak baca apa???
“Taa Bass” jawaban serentak santri
Selesai menjawab pertanyaan pertama, seorang santri lain duduk di
pojok kanan mengangkat tangan.
“perkenalkan nama saya Harum, asal Kalimantan timur, tepatnya
samarinda…”
“sudah tahu,,, sudah tahu,,,,” sorak seorang huffadz menimpali,
huuu… u… sorak yang lain, suasana jadi tambah ramai dan hidup
“begini naa ustdz,,, bagaimana caranya supaya kita tidak cepat
lupa dengan hafalan, karena terkadang saya sudah hafal, beberapa menit lupa
sudah….” Tanya harun dengan logat khas kalimantannya.
“curhat ni yee….”kata seorang huffadz ngeledek, huuu… u…
“penyakit lupa memang menjadi penyakit penuntut ilmu khususnya
para penghafal al-Qur’an, faktor lupa ini sebenarnya banyak, namun yang paling
besar pengaruhnya ke hafalan adalah hati yang terkotori oleh dosa. bahkan ulama
besar sekelas Imam Syafi’i pernah mengalami penyakit ini. Coba
kita resapi ungkapan beliau yang mashur:
“Aku mengadukan kepada guruku waki
tentang buruknya hafalanku, maka beliau menyuruhku untuk meninggalkan
kemaksiatan, karena ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepeda
pelaku maksiat.”
Aku melanjutkan penjelasanku….
“Seorang ulama besar dari Turki Badiuzzaman Said Nursi, beliau
mampu menghafal Al-Qur’an kurang dari sebulan, mampu menghafal luar kepala
semua buku yang dibacanya dengan sekali baca.
Suatu ketika seorang muridnya yang hafal al-Qur’an mengeluhkan
kondisi hafalannya yang semakin hari terlupakan, maka ia memerintahkan muridnya
untuk menjaga pandangan dari melihat yang haram, karena melihat yang haram
mewariskan penyakit lupa.
“kesimpulan dari cerita tadi wahai saudaraku, bahwa dosa adalah
faktor terbesar hilangnya hafalan, menurunnya daya ingat, kurangnya motivasi
untuk menghafal, dan pandangan salah satu pabrik dalam menghasilkan dosa
tersebut”
***
Gelap malam semakin menyelimuti, waktu menunjukkan pukul 22.04
malam, Tanya jawab semakin seru dan menarik dibalut dengan Ukhwah Al-Qur’an,
canda tawa para keluarga Allah di dunia membuat iri para iblis.






subhanallah... terima kasih mengingatkan untuk hafalan... :-)
BalasHapusSama2.. semangat...
HapusNambah semangat buat yg mau menghafal alqur'an nih..
BalasHapusThankz tipsnya
Harus menjaga pandangan padahal banyak tukang siomay yang menggoda. Hehe. Keren mba ilmu baru
BalasHapusOke semangat TaBas, hehe...
BalasHapusterima kasih, jadi serasa diingatkan. klo program-program yang lain sudh mulai jalan. semoga program hafalan al quran juga mulai saya jalankan. Bismillah
BalasHapusMenginspirasi.. super sekali..😊
BalasHapusOke, mulai sekarang berhenti memikirkan cara. Mulai saja. TaBas.
BalasHapusNice :)
Maasya Allah. Tulisannya bermanfaat sekali.
BalasHapusTerima bang arief, telah mengingatkan saya untuk lebih dekat lagi pada al quran
BalasHapusOps, maaf...typo bang abdur rahiem maksud saya...
HapusMasyaAllah, semoga kita istiqamah dalam menghafal Alqur'an...
BalasHapusMasyaAllah. Niat tanpa tindakan percuma. Tindakan tanpa istiqomah juga tiada artinya.
BalasHapusSalam kenal, sy Veniy dr grup ODOP :)
jadi inget masa lalu,, hhe,, semangat...!!!
BalasHapusmakasih telah bertandang di rumah kami (red: blog)... nnti sy lagi yang main ke tempat-tempat kalian jika diizinkan...
BalasHapussemangat terus...
Maa syaa Allaah ... terima kasih ya syeikhna... semoga saya juga bisa seperti antum. Aamiin
BalasHapus