Apa Niat-mu?

“Engkau bohong! Engkau melakukan itu semua karena ingin digelari seorang ‘Alim, kan?"

Seluruh mata tersorot tajam kepadanya. Para hadirin gugup, berdebar-debar dengan keringat tak henti-hentinya bemunculan dipermukaan kulit menyaksikan pengadilan itu. Sudah beberapa lama penghakiman itu berlangsung. Hakim menyanggah habis-habisan, mengungkap dengan sejujur-jujurnya kepalsuan perbuatannya selama ini.

"Engkau melakukannya agar engkau mendapat gelar ustads, kan? Engkau ingin terkenal, ingin dipandang tinggi oleh banyak orang, ingin dijuluki pandai Qur’an, benar, kan?"

Laki-laki itu hanya terdiam menundukkan pandangan, mulut terkunci, tak sepatah kata pun terlontar untuk membela. Ia berusaha membuka bibir, berusaha keras hendak mengucapkan sepatah dua kata. Namun tetap tidak bisa. Kedua bibir terkatup rapat, seperti tergembok kuat. Ia mulai pasrah, Ia sadar inilah akhir dari hidupnya. Nasibnya telah di ujung tanduk. Kebohongannya terungkap tak tersisa, dipreteli hingga ke akar-akarnya.

“Pengawal! Seret dia! Masukkan ke dalam penjara. Ia sudah mendapatkan gelarnya, ia sudah mendapatkan tujuannya dulu. hari ini, Tak ada lagi bagiannya, semuanya telah diambil.” Suasana hening. Para hadirin semakin tegang, jakun naik turun menelan air liur, gugup dan dahaga bercampur jadi satu.

Sesaat kemudian, laki-laki kedua maju. Langkahnya mantap dengan pakaian layaknya  seorang aristokrat inggris. Ia menghentikan langkahnya di depan hakim, memberi salam dengan senyum mengembang.

“Apa yang telah engkau lakukan wahai pulan?”

“Duhai Hakim, aku ini orang kaya, tidak ada satu pun tempat ibadah kecuali aku turut menyumbang. Tak ada satu pun orang miskin yang butuh bantuan melainkan aku mengulurkan tangan membantunya. Tanganku sangat ringan mengeluarkan rupiah untuk membantu sesama. Aku merasa layak dengan hadiah yang engkau janjikan duhai hakim.” Perkataannya mantap

“Bohong! Engkau bohong! Engkau melakukannya supaya orang mengatakan engkau seoarang yang dermawan, kan? Engkau ingin mendapat gelar ringan tangan, kan? Supaya engkau dipuji-puji dengan kekayaanmu. Engkau membantu supaya orang lain memilihmu dalam pencalonan, kan? Tak usah mengelak. Aku tahu semuanya.”

Hakim kembali menyanggah pernyataan laki-laki itu. Kembali mengungkap kebenaran dibalik perbuatannya selama ini. Ia tak bisa berkelit. Semua bukti dipaparkan di depannya. Semua saksi memberi kesaksian dengan sedetai-detailnya. Tak ada yang terlewatkan sejedah pun. Merasa terpojok, ia hanya tertunduk dengan beban penyesalan di pundaknya. Tak ada pembelaan. Semua bukti jelas, sejelas cahaya matahari di siang hari. Seterang rembulan di malam purnama.

***
Cerita diatas disadur dari hadis Nabi. Hadis yang menggambarkan peristiwa luar biasa di hari perhitungan seluruh perbuatan manusia. Gambaran peradilan yang seadil-adinya. Orang teraniaya mendapatkan haknya. Penganiaya dihukum atas perbuatannya. Pelajaran yang ingin disampaikan dalam hadis ini, yaitu pentingnya Niat dalam segala hal. Niatlah yang menentukan perbuatan seseorang akan diterima atau tertolak. Buah pelajaran yang bisa dipetik dari dua orang di kisah tersebut yaitu, keduanya melakukan perbutan bukan karena tujuan yang dikehendaki Allah. Maka, bagiannya cuma di dunia, di akhirat mereka tak mendapatkan apa-apa. So, perbaiklah niat sebelum melakukan sesuatu perbuatan, karena itulah yang akan menentukan apa yang kita dapatkan.
#Mari perbaiki tujuan kita sebelum menulis


#OneDayOnePost
#Minggu ke 4, 21 Maret 2016

9 komentar: