Apakah Aku Mencintai-Nya?

Aku tidak mengerti, mengapa sikapku tidak sama ketika aku mencintai lawan jenisku? Saat namanya terucap oleh bibir, perlahan perasaan bahagia menyusup ke ulu hati. Saat mendengar namanya, tumbuh benih-benih rindu bertemu dengannya. saat seorang laki-laki berusaha mendekati dirinya, perasaan khawatir menyelimuti hati. Mendengar namanya terlafadzkan oleh laki-laki itu, telinga panas terbakar api cemburu. Namun, ketika nama-Nya yang disebut, mengapa biasa-biasa saja? tak ada perasaan bahagia, rindu dan cemburu terbit? Apakah aku mencintainya?

Aku tidak mengerti, mengapa perlakuanku tidak sama seperti perlakuanku dengan lawan jenisku? Saat hendak bertemu dengannya, aku pasti berusaha tampil rapi dan sopan. Aku jadi rajin mandi, gosok gigi, mengenakan sebaik-baik kostum yang aku miliki, stylis dengan parfum menebar aroma keindahan. Di depannya segala upaya kulakukan agar dia simpati kepadaku, agar dia mengagumiku. Suara pelan takut melukainya. Serta mengayung-ayungkan nadanya agar terdengar lembut di telinganya. Berlama-lama dengannya sangat menyenangkan dan menentramkan jiwa. Namun ketika aku hendak bertemu dengan-Nya. Baju tak perlu rapi. Sikat gigi pun jarang. Detik-detik bersamanya terasa lama dan membosankan. Apakah aku mencintai-Nya?

Aku tidak mengerti, mengapa aku merasa tidak adil? Ketika terdengar suaranya memanggil, lekas-lekas kusambut. Berlama-lama dengan tulisannya membuatku lupa waktu. Pagi, siang, sore bahkan di sepertiga malam jika terdengar nada panggilannya, diriku spontan membaca dan membalas seletih apapun diriku. Namun jika Dia yang memanggil, mengapa diriku acuh tak acuh? sering kali menunda penggilan-Nya. Bahkan juga tidak menghiraukan. Surat-suratnya pun jarang kubaca. Aku baca juga tak sesemangat membaca pesan darinya. Atau mungkin diriku sudah buta Aksara dengan tulisan-Nya. Apakah aku mencintai-Nya?

Aku masih belum mengerti, demi orang yang aku cintai, ragaku rela berkorban apa saja, waktu, tenaga, materi jangan ditanya lagi. diriku rela melakukan apa saja untuk memberikan apa pun yang dipinta sang pujaan hati. Walau hanya sekedar isyarat dia menyukai sesuatu tak banyak waktu dan fikir untuk memenuhi keinginannya. Namun ketika Dia yang meminta, mengapa tangan ini begitu dingin membeku, terlalu berat mengangkat receh dari saku. Memberi pun dengan angka nol yang sedikit. Jika barang, memilah yang tak terpakai. Atau menunggu waktu tak layak pakai. Apakah aku benar-benar mencintai-Nya?

Hari ini, aku mempertanyakan cintaku kepada-Nya. Apakah ini yang disebut cinta? Atau cuma mulutku yang berkoar-koar melalafadzkan Asma-Nya. Hanya tulisanku yang membangga-banggakan diri-Nya. Di luar itu, aku tidak pernah berusaha tampil sempurna di depan-Nya. Shalatku terlalu cepat. Ketika hendak menghadap-Nya, pakaian seadanya. Sikat gigi jarang, apalagi mandi. Panggilan-Nya sering aku akhirkan dari pada kegiatanku yang lain. Bacaan terhadap surat-surat-Nya belum kedengaran meningkat. Aku masih ingat terakhir kali membaca kalamnya, ketika diriku duduk di bangku kanak-kanak, ah bukan… terakhir ketika di hari pernikahanku. Ah bukan juga, ketika bulan ramadhan yang lalu kayaknya sempat meliriknya. Apakah aku benar-benar mencintai-Nya?


#OneDayOnePost H5

10 komentar:

  1. Jadi instropeksi diri...hehehe

    BalasHapus
  2. Wahh....
    Mari Tafakkur dan kembali mempertanyakan apakah kita betul2 mencintaiNya?:')

    BalasHapus
  3. Keren, jika benar-benar bisa mencintaiNya..

    BalasHapus
  4. Semoga bisa lebih dekat kepada-Nya. Aamiin..

    BalasHapus
  5. wah inspired banget bang.. semoga bisa jadi bahan pbaikan diri buat penulisny dan pembacanya.. aamiin.. ttp smangat buat menulis..menebar kbaikan yeay!

    BalasHapus
  6. Apakah aku mencintaiNya?
    #muhasabah diri
    #keren untuk bahan renungan...

    Tingkatkan...

    BalasHapus