Buruk Disulap Menjadi Indah

Di abad moderen ini, hal yang baik bisa disulap hingga nampak jelek, buruk dimodif agar kelihatan menawan dipandang mata. Dan lebih memprihatinkan, sesuatu haram dapat dibungkus rapi sehingga dianggap sesuatu yang sah-sah saja. Pacaran misalnya. Akibat pengaruh negatif dari globalisasi, pergaulan dunia yang tampa pembatas dengan hadirnya teknologi, membuat pacaran seperti hal yang biasa-biasa saja. Bahkan orang bukan pelaku pacaran bisa direndahkan habis-habisan dengan titel baru yang disebut “Jomblo”.

Setelah beberapa penyelidikan, ada beberapa alasan pelaku melegalkan pacaran, diantaranya:
"Saya pacaran islami, tak ngapa-ngapain." ada juga yang berkata, " Agar tidak diambil orang, dari sekarang saya menjaganya.". "Supaya lebih fokus dan semangat belajar."
Mari kita bahas satu persatu alasan diatas.

"Saya pacaran islami, tak ngapa-ngapain,"
Katanya “Pacaran islami” Sejak kapan ada syariat baru? mulai dari kecil sampai sekarang, tak pernah terbaca dari tulisan ulama atau terdengar dari mulut ‘Alim adanya pacaran islami. lagipula, kalau tak ngapa-ngapain, buat apa pacaran? Toh, tak ada mamfaat. Dosanya sudah pasti. lebih baik mamfaatkan waktu untuk mengejar impian.

"Agar tidak diambil orang, dari sekarang saya menjaganya."
Alasan seperti ini, sama halnya meragukan kemampuan Tuhan. Apakah dengan menjaganya sekarang, dirimu pasti bersamanya di pelaminan? ketahuilah, jika dia jodohmu, walau tak dijaga, Allah tak akan kehabisan cara untuk mempertemukanmu dengan si doi pendamping hidupmu. Namun, jika dia bukan jodohmu, seketat apapun penjagaanmu. sekenal apapun kamu dengan orang tua dan kerabatnya. Tuhan pasti punya cara untuk memisahkanmu. Menangis darah, merontah tiada henti, engkau tak akan merubah takdir Tuhan.

"Supaya lebih fokus dan semangat belajar"
Alasan seperti ini sering terdengar dari remaja-remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Namun benarkah demikian adanya? Coba jujur kepada diri sendiri. Tanyakan ke jiwa anda dengan sejujur-jujurnya! Apakah saya benar-benar fokus semenjak pacaran sama si doi? atau malah belajar terlantar tergantikan bayangan-bayangan si doi? Bukannya sibuk dengan buku, malahan sibuk dengan chatingan dengan si doi. Jika marahan, keduanya galau tingkat dewa. Belajar jadi tak fokus, makan pun tak mood. Katanya, "Agar semangat belajar" Namun, coba kita lihat fakta, adakah pemenang Olimpiade Matematika, Kimia atau lainnya yang diraih akibat pacaran?

Saya tidak membenci atau iri dengan Anda, sebenarnya saya sayang kepada Anda dengan tulisan ini. Namun terkadang kesombongan dan keangkuhan bisa mengubah rasa sayang orang lain dianggap merendahkan. Nasehat dianggap pelecehan atau olok-olokan. Janganlah menjadi salah seorang yang dibutakan cinta. Bukankah kita dianugerahkan logika sebagai pembeda dengan makhluk lain untuk membedakan baik buruknya sesuatu?

Satu hal yang pasti tentang “Cinta”, nikah adalah solusi terbaik bagi mereka yang dimabuk asmara. Jika belum sanggup, perbaiki diri, persiapkan segala sesuatu mulai dari sekarang. Ikhtiar cinta bukan pacaran. Namun ikhtiar cinta yaitu memerbaiki diri. Ta'aruf kemudian datangi walinya jika sudah merasa siap dan mantap. Ingat, Ta’aruf bukan pacaran.


#OndDayOnePost
#Minggu ketiga 16 Maret 2016

6 komentar:

  1. Bener banget. Makasih udah diingetin ^^

    BalasHapus
  2. Saya pacaran juga loh, mas.. Sama istri saya setelah menikah.. hehe

    BalasHapus
  3. Aihhhh bang syaiha.. komennya bikin baper..😂😂😂

    Keren mas rahim.. setuju!!😄

    BalasHapus
  4. Keren... Nadilla suka tulisannya...

    Ta'aruf dengan pacaran dua hal yang berbeda, #like

    BalasHapus