Buku adalah jendela dunia.
kata-kata yang sering saya dengar sedari kecil sampai sekarang. Jika ingin
melihat suatu tempat di belahan dunia lain yang belum Anda lihat, bacalah buku!
Buku akan memperlihatkan kepada Anda tempat itu tanpa merogok rupiah di saku
untuk berkunjung kesana. Itulah penjabaran makna yang saya cernah dari
kata-kata diatas.
Saya juga pernah mendengar
sebuah ungkapan “Anda di masa depan, apa yang Anda baca hari ini” sebuah
kalimat pendek, namun memiliki makna dan dampak luar biasa. Mengapa demikian?
Kalimat tersebut bermakna, buku yang Anda baca sekarang, akan membentuk masa
depan Anda. Misalnya, Seseorang yang bercita-cita menjadi penulis, tentunya ada
faktor menjadikan ia berkeinginan menjadi seperti itu. Mungkin, ia pernah
membaca buku kelebihan menjadi seorang penulis, ia pun terinspirasi untuk
menjadi penulis. Ia bekerja keras mewujudkan impiannya dan pada akhirnya ia
benar-benar menjadi seorang penulis. Contoh lain, Anda suka Filsafat, membaca
buku beraroma filsafat, secara perlahan, buku yang dibaca akan mempengaruhi
fikiran, berbuah karakter, menjadikan Anda seorang pribadi yang kritis, seorang
yang tak mudah mempercayai sesuatu tanpa masuk dalam nalar logika.
Disadari atau tidak
disadari, kalimat pendek diatas juga digunakan para oknum atau kelompok tertentu
untuk memasukkan pemikirannya kepada pembaca secara perlahan namun pasti. Pada
akhirnya, pembaca tanpa sadar diseret ke lingkaran kelompoknya atau minimal
sepemikiran dengannya. Contoh ini terjadi pada teman saya, kami sama-sama
keluaran pondok, akibat sering membaca buku-buku tentang kelompok tertentu
(tidak merasa etis untuk menyebutkan kelompok), pemikiran dan tingkah lakunya
180 derajat berubah dari apa yang saya pelajari di pondok. Bahkan, jauh dari
akidah tauhid yang benar.
Maka, disinilah pembaca
perlu hati-hati dalam memilih buku untuk dicernanya. Jangan asal murah atau
gratis, terus diboyong ke rumah dan dilahapnya mentah-mentah. Terutama bagi
saya dan pembaca yang belum memiliki benteng pertahanan yang kuat. Saya tidak
menakuti bahkan membatasi Anda untuk membaca. Bacalah sebanyak-banyaknya!, tapi
jangan lupa meletakkan pondasi dasar sebagai filter, yaitu kitab suci
al-Qur’an dan assunnah jika sebagai umat islam. Segala sesuatu yang
bertentangan dengan keduanya, hendaknya diteliti lebih dalam dan diambil
baiknya.
Berbicara masalah buku yang
menarik bagi saya. Meminjam perkataan mba maya “Jika ditanya tulisan bagus itu
yang bagaimana? Sama halnya jika kalian bertanya, perempuan itu cantik nga?
artinya, tulisan atau buku yang menarik itu relatif, tergantung tipe, kriteria,
hobi masing-masing individu. Jika ditanya, apa saya suka buku horor? jawaban
saya pasti tidak suka, lain halnya orang yang suka, jawaban mereka pasti, iya.
Kalau ditanya, apa saya suka baca tentang sepak bola?, jawaban saya pasti akan
sangat berbeda dari orang yang gemar bola. Begitulah kira-kira, semua
tergantung tipe, kriteria, hobi masing-masing.
Nah, salah satu buku saya
sukai, yaitu sebuah buku yang ditintakan oleh seorang ulama ternama, Dr. Said
Ramadhan al-Buthi berjudul, “La’ Ya’tiihi baathil” (Takkan
datang kebatilan terhadap al-Qur'an). Ulama kelahiran Turki ini merupakan salah
satu ulama rujukan tingkat dunia. Berbagai disiplin ilmu ia kuasai, salah
satunya Filsafat dan ilmu debat. Keduanya diaplikasikan untuk menghadapi dan
memusnahkan segala bentuk pemikiran yang berusaha menyelipkan keraguan tentang
kebenaran ajaran islam. Karyanya tersebut, sebagai benteng kokoh membendung
pemikiran-pemikran liar itu.
Cara penyampaian beliau pun
dalam bukunya sangat interaktif lagi menarik (Menurutku). Di dalam bukunya, ia
terlebih dahulu memaparkan tuduhan-tudahan para kaum orientalis terhadap islam.
Setelah itu, dengan ketenangan pemikiran, ketajaman analisis dan kedalaman
pandangan, ia menjawab secara tuntas tuduhan-tuduhan tersebut tanpa menyisahkan
bekas keraguan sedikit pun kedalam benak pembaca.
Saya menuliskan salah satu
contah asumsi kaum yang tidak menyukai islam yang ditulis dalam buku tersebut;
“Orang Islam adalah orang
yang tersesat. Mereka sendiri yang membuktikan dirinya tersesat. Setiap shalat,
ia membaca surah al-Fatihah, salah satu ayatnya mengatakan, “Ihdinashiraatal
al-mustaqim” artinya, tunjukkanlah kami jalan lurus! Menurut logika
berfikir, berarti umat islam saat ini belum menemukan jalan yang lurus. Umat
islam masih tersesat. Diambil dari ayat tersebut, apakah bukan berarti mereka
sekarang tersesat?” apakah kita mau mengikuti orang tersesat?”
Apakah Anda mulai
mengiyakan atau mengangguk-anggukan kepala dengan asumsi orientalis diatas?
Jika iya, berarti benarlah perkataan, “Anda di masa depan, apa yang Anda baca
hari ini” kalian bisa sependapat dengan orientalis, dan buruknya lagi, akan
menjadi seperti mereka sekarang atau di masa akan datang, jika Anda terus
menerus menyimpan keraguan itu tanpa menemukan sanggahannya.
Jika pembaca sekarang atau
suatu saat ditanya tentang hal itu, apa jawaban Anda? untuk jawabannya, saya
tidak akan menuliskannya disini, karena tentunya postingan ini akan sangat
panjang. Dalam karya buku Syeikh Ramadhan al-Buthi ini, dituliskan banyak tuduhan-tuduhan,
guna menyelipkan keraguan terhadap agama islam. Namun, tuduhan itu dibantah dan
dijelaskan dengan tuntas tak tersisa oleh beliau. Tuduhan diatas hanya salah
satu dari tuduhan-tuduhan lainnya. Selamat membaca!
#OneOnePost
#Minggu ketiga 18 Maret 2016
#Minggu ketiga 18 Maret 2016







MasyaAllah... ulasannya runtun... :)
BalasHapusKeren, semangat...
Very recomended, jd pengin tahu lebih lanjut isi bukunya
BalasHapusVery recomended, jd pengin tahu lebih lanjut isi bukunya
BalasHapuspengen bacaa, download ada nggk ya?
BalasHapusbelum ada mba... tpi mgkn aja sdh ada, soalnya sdh lama sekali sya belinya
Hapusjadilah pembaca yg cerdas, tdk menelan mentah2 semua yg dinaca..😊
BalasHapusMasuk list lagi...
BalasHapus