Mentari pagi bersinar di ufuk timur, memberi kehangatan
penduduk bumi Kinanah, menghilangkan sisa-sisa musim dingin yang masih tersisa.
Awan mulai memamerkan kulit putihnya yang berombak-ombak. Sesekali birunya langit
mengintip dari baliknya, bak seorang putri melirik dibalik niqabnya. Udara
musim dingin tergantikan sejuknya kehangatan musim semi. Kabut-kabut hilang
diserap panasnya matahari, menyisakan jejak tak terlihat bagi mata yang
memandang terangnya negeri para nabi.
“Hisyam…. Bangun, katanya mau datang ke masjid lebih awal”
terdengar suara Amru membangunkanku.
“Em….” Kataku bergeliat memperbaiki posisi tubuhku yang sedari
tadi dalam hangatan selimut. Sehabis melantunkan beberapa kalam-kalam ilahi
selepas shalat subuh tadi, kuputuskan memanjakan tubuh di atas kasur setinggi
10 cm. Hari jum’at merupakan hari istrahatku, begitu juga instansi-instansi
pemerintahan. Beda dengar negeriku, yang menjadikan minggu sebagai hari
liburnya. Aku melirik jam, 10.15 menit, kusibakkan selimutku. Seperti
orang-orang buru, aku menyambar handuk langsung
menuju kamar mandi.
“Kok buru-buru cak?” kata Amru ketika melihatku sudah siap
berangkat ke masjid.
“Hari ini yang menjadi Khatib Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim,
aku harus cepat-cepat ke masjid supaya bisa kedapatan tempat duduk”
“Prof Umar Hasyim, ulama besar Al-Azhar yang dijuluki Amirul
Mukminin fil Hadits itu ya cak?
“Ya bener, pasti hari ini masjid akan sesak manusia.
Ceramah-ceramah beliau sangat di senangi oleh penduduk Cairo, mau pun di luar Cairo”
“Wah… Aku juga harus cepat-cepat kalau gitu, penasaran dengan
sesosok ulama tersohor itu” kata Amru seraya melangkah mangambil handuknya.
Beberapa menit mengarungi pinggiran gedung-gedung apartemen,
aku tiba di samping masjid Al-Azhar. Masjid yang berdiri kokoh sejak tahun 359
H pada dinasti Fathimiyah. Di samping kanan, toko-toko buku berjejer rapi. Di kawasan
ini, tempat mahasiswa atau pun pelajar dari sekolah lain berburu buku. Buku-buku
bernuangsa islami dijajakan di sini. Namun jangan cari yang berbahasa Indonesia,
karena sampai nenek-nenek tak akan ditemukan. Toko-toko masih sepi. Biasanya akan buka usai shalat
jum’at.
Beberapa detik kakiku tiba di “bab al-muzayyini”,
pintu utama masjid al-Azhar. Kemudian melewati Shahn, ruangan luas di
bagian tengah masjid terbuka tanpa atap.
Di samping shahn terdapat beberapa ruang-ruang disebut Ruwaq,
seperti ruwaq Abbasiah, Atrak, Maghribah, dan Syam. Ruwak itu dulunya
tempat para fakir miskin dari Turki, Maroko (Maghrib) dan Syam yang tinggal di
masjid guna menuntut ilmu. Untuk melastarikan sejarah yang mulia itu, hingga
kini masih dibuka pengkajian kitab-kitab klasik di ruwak itu, yang kami
mahasiswa menamainya dengan Talaqqi.
Sejurus kemudian, aku tiba di dalam masjid. Aku melihat
sekeliling, shaf pertama dan kedua telah terisi. Aku langsung mengambil shaf di
depan mimbar shaf ketiga. Usai shalat
sunnah tahiyatul masjid, aku rampungkan bacaan surah al-Kahfi yang belum selesai
sambil menunggu adzan dikumandangkan.
Allhu Akbar Allahu Akbar
Adzan diserukan ke seentore pelosok-pelosok negeri seribu
menara. Bersahut-sahutan dari menara ke menara mengagungkan kebesaran pencipta
jagat raya. Usai adzan dan shalat dua rakaat. Syeikh Umar Hasyim naik ke atas
mimbar. Mengucapkan salam, kemudian adzan kedua diperdengarkan. Beliau mulai
khutbahnya dengan tahmid, syahadat dan shalawat. Judul khutbah yang dibawakan “KETINGGIAN
SEMANGAT DALAM MENYEBARKAN ISLAM”. Mesiki umur telah dimakan usia, suaranya
tak kalah dengan pemuda. Suaranya lantang penuh semangat berapi-api, alunan nada
tinggi dan rendahnya sesuai sasaran. Dengar syair-syairnya, membuat para
jama’ah bertakbir dan bertahmid keras.
Syeikh Umar menceritakan, bagaimana ketinggian semangat nabi
dalam menyebarkan islam. Ketika awal-awal mendeklarasikan Agama suci yang
dibawanya. Para pemuka kaum bermusyawarah untuk menghentikan dakwa nabi, takut
agama mereka tergantikan oleh ajaran yang dibawa Muhammad. Maka terjadilah
kesepakatan, jika Muhammad bersedia menghentikan dakwahnya, mereka akan memberikan
segala apa pun yang dimintanya.
Salah satu pemuka kaum mengatakan, jika Muhammad menginginkan
wanita, kami siap mencarikan yang tercantik di jazirah arab ini. Jika Muhammad
menginginkan harta, kami akan memberikannya sampai hartanya tidak habis tujuh
turunan. Jika menginginkan jabatan, kami akan memberikan jabatan sesuai
keinginannya. Lalu paman nabi Abu Muthalib menyampaikan kepada cucunya beberapa
pilihan itu.
Maka nabi berkata:
“Duhai pamanku, demi Allah, walau matahari diletakkan di
tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku. Sungguh aku tidak akan meninggalkan
agama yang kubawa sampai Allah memperlihatkan pertolongannya”
Sungguh kisah yang luar biasa, dibalut dengan kepiawain sang
khatib membuat khutbah hidup dan tertancap kokoh di dalam jiwa, menelurkan semangat
untuk menaladani Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam. Allahu Akbar
#OneDayOnePost
#Minggu kedua 11 Maret 2016
#Minggu kedua 11 Maret 2016






Allahu Akbar, Makasih ya ilmunya. Alhamdulillah. Semoga saya bisa kesana, melihat langsung negeri para Nabi. Mohon doanya ya ^^
BalasHapusAamien... Ya Rab
HapusSubhanallah :""
BalasHapusMasyaAllah, cerita sederhana yg penuh dengan ilmu dan hikmah. Semoga sy jg bisa kesana.
BalasHapusDengan Izin Allah semua bisa mba.. Semangat..
HapusHmm Semoga bisa ke sana Amiin
BalasHapusMembaca ini sambil Membayangkan kota kairo. Lalu bertanya, kapan aku bisa ke sana ya?
BalasHapusDimna ada kemauan disitu ada jalan.. Ayo semangat mba..
HapusCairo menunggumu...
Membaca ini sambil Membayangkan kota kairo. Lalu bertanya, kapan aku bisa ke sana ya?
BalasHapusMasyaAllah, luar biasa...
BalasHapusAllahu akbar!!!
semangat untuk menaladani Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam. Allahu Akbar!!
BalasHapussemangatt!!
Semangat....
HapusSyeikh Umar Hasyim. Sepertinya kata2 beliau akan sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.
BalasHapusMenimba ilmu di Cairo tentu sangat banyak hal yang menginspirasi ya mas.
Salam kenal dari Bogor.
Izin follow blognya ya
salam kenal mba Sri...
Hapussilahkan di follow...