Laki-Laki dalam Penantian

Duduk bersama ibu di halaman rumah, di bawah pohon mangga dengan bangku kayuku sejak kecil. Di dekatnya ayunan semasa kecil buatan tangan ayahku. Malam-malam terakhir ini adalah malam yang menarik bagiku semenjak kedatanganku dari negeri seberang. Semenjak kuliah kesempatan ini jarang kudapatkan. Aku di negeri lain, ibu tetap setia di desa kecil ini.
Dulu di bangku kecil ini, ibu bercerita tentang dongen. Ia mampu menyeretku ke alam dongennya seakan diriku hidup di dalamnya. Menyaksikan sendiri lakon-lakonnya memainkan aksi mereka. Banyak dongen dilantungkan. Aku masih ingat, ibu berdongen tentang si kancil yang berhasil mengelabui para buaya untuk bisa menyeberangi sungai. Si malin jadi batu akibat durhaka kepada ibunya, anak gembala pembohong dan serigala. Sungguh indah malam-malam itu.

Malam ini ibu tak berdongen lagi. Sepertinya ada pertanyaan besar di benak yang ingin ditanyakan. Ternyata betul, ibu membuka obrolan denga pertanyaan.

Ibu: “Sudah punya calon, Nak?”

Aku: “Belum terfikirkan, Bu.”

Ibu: “Kamu sebaiknya sudah berfikir ke arah sana Nak, Ibu merasa sudah tua, ibu ingin melihatmu duduk berdua di pelaminan sebelum menyusul mendiang ayahmu.”

Aku: “Ah ibu, ibu akan panjang umur, lagi pula buat apa aku nikah bu? Ibu dan keluarga sudah ada, kasih sayang kalian cukup untukku. Aku tidak membutuhkan dari yang lain lagi.”

Ibu: “Nak, setegar apapun laki-laki, sekaya apapun mereka, perempuan dibutuhkan untuk membuktikan kelaki-lakiannya. Laki-laki diciptakan dengan tabiat ingin melindungi, perempuan dengan tabiat ingin dilindungi. Pasti akan terasa sesuatu yang kurang dihidup mereka (Laki-laki dan perempuan) jika salah satunya tidak ada.”

Pembicaraan ini terhenti tanpa ada apa-apa selema tiga menit. Ibu diam memerhatikan.

Ibu: “Kamu kenapa, Nak? Apa yang ada dalam fikiranmu?”

Aku: “Aku hanya berfikir tentang arti cinta, Bu. Katanya cinta harus memiliki. Ibu ingin menyerahkanku kepada seseorang perempuan.  Apa ibu tidak mencintaiku lagi?”

Ibu: “Nak, hakikat cinta bukan harus memiliki seperti yang ada di fikiranmu. Ingin memiliki sendiri itu egois. Namun cinta yang sebenarnya, ingin melihat orang yang dicintainya bahagia, baik bersama dirinya maupun orang lain.

Suasana kembali hening sesaat. Ibu memandang jauh ke langit yang bintangnya bertaburan.

Ibu: “Nak, tentukanlah segera pilihanmu! pilihlah seorang perempuan yang akan kau lindungi dan menjadi ibu dari anak-anakmu kelak.”

Aku: “Baik, Bu, aku akan menunggu perempuan itu.”

Ibu: “Kenapa kamu yang menunggu, Nak?, bukannya kamu yang ditunggu?”

Aku: “Bu, menurutku laki-laki juga menunggu. Laki-laki menunggu seorang perempuan yang sanggup menggetarkan hatinya. Sederhana sekali kan tugas perempuan, Bu? Cukup menggetarkan saja.

Ibu: “Hahaha, kamu bisa saja, Nak.”

Pembicaraan masih berlanjut sampai larut. Namun bukan lagi tentang hakikat cinta, laki-laki yang menunggu, tapi tentang masa-masa kecilku bersama ayah.



#OneDayOnePost
#Minggu keempat 23 Maret 2016

7 komentar:

  1. Nah loh, ibu sudah bertanya... ehm

    BalasHapus
  2. Sudut pandang baru. Giliran lelaki yang menunggu :D
    semoga segera dipertemukan dg sang penggetar ya bang :D

    BalasHapus
  3. Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya

    BalasHapus
  4. hhmm,,yg mampu menggetarkan hati, seperti apakah?

    BalasHapus
  5. hhmm,,yg mampu menggetarkan hati, seperti apakah?

    BalasHapus