Setiap manusia punya masa lalu. Ibarat sebuah bayangan, ia akan
terus mengikuti manusia kemana pun ia pergi. Berungtunglah bagi orang yang
mengisi setiap detik waktunya dengan keindahan sesuai ajaran Tuhan. Masa lalu
pun jadi indah dan dikenang baik di masa tua. lantas, bagaimana jika
sebaliknya? Masa lalu bagai hantu yang mengerikan, bahkan lebih buruk daripada
itu. Hantu biasanya memperlihatkan diri di malam hari. Namun masa lalu buruk
akan menampakkan dirinya disetiap sudut yang mengantarkan kepadanya.
Masa lalu pun memiliki tingkatan, tingkat bawah, menengah dan
atas. Masa lalu tingkat bawah, masa lalu yang biasa-biasa saja, tak ada yang
spesial di waktu yang berlalu itu. Masa lalu tingkat menengah, masa lalu yang
akan terus membekas dalam memori. Kejadian lucu dan memalukan, bisa membuat
ketawa-ketiwi sendiri ketika mengingatnya. Masa lalu tingkat atas. Masa lalu
yang belum bisa move on karenanya. Masa lalu yang bekasnya masih terasa sampai
sekarang.
Lalu bagaimana dengan masa lalu tingkat terakhir seperti ini? Nasi
sudah menjadi bubur. Tak ada lagi ada upaya untuk bisa memperbaikinya. Masa
lalu seperti ini banyak contohnya, namun satu menjadi perhatian penting dalam
tulisan ini. Masa lalu ditinggal mantan dengan meninggalkan diri tanpa
tersisa. Setidaknya kalian paham maksud kalimat itu. Jika sudah terjadi, apa
yang harus dilakukan? Padahal semua telah terjadi, waktu tak mungkin bisa
diputar kembali. Terkhususnya bagi perempuan, merekalah yang sangat dirugikan.
Akankah ada laki-laki yang akan menerimanya dengan segala masa lalunya yang
kelam itu?.
“Jika ditawarkan kepada Anda laki-laki seorang perempuan yang
cantik, shalehah namun Dia tidak suci lagi, apa respon Anda?”
Jika laki-laki ingin bijak, dan mencontoh Rasulullah, maka
jawabannya “Iya”. Masa lalu adalah masa lalu, sekarang sudah berbeda. Jika
menikah hanya terpokus kepada soal keperawanan, maka nabi tidak mungkin
menikahi Khadijah. Seorang janda beranak dua dengan dua laki-laki sebelum nabi.
Namun beliau menikahi khadijah karena kemuliaan akhlaknya. Khadijah pada eranya
diberi gelar dengan “Al-Afifah at-Thahirah” seorang yang menjaga
kesucian lagi bersih. Apakah ia masih suci diberi gelar itu? Tentunya tidak,
karena sebelumnya dia sudah punya suami. Jadi kesucian bukan pada masa lalu,
namun kesucian adalah masa sekarang. Sejauh mana ia mampu mempertahankan adab
dan kesuciannya lagi sampai kepada sebuah ikatan halal.
Jadi bagi perempuan, ikhlaslah menerima masa lalu, buka lembaran
baru dan isi dengan akhlak-akhlak baik, insya Allah nantinya akan datang
seorang laki-laki baik yang akan menerima kamu dan masa lalumu. Dengan catatan,
akhlah yang baik. Masa lalu seperti bayangan. Maka sinarilah dirimu denga
cahaya Allah, maka bayangan pun sirna dengan cahayanya. Terangilah dirimu
dengan impian-impian untuk masa depan cerahmu.
#OneDayOnePost
#Minggu ketiga 17 Maret 2016






Kita memang g mungkin kembali ke masa lalu tuk perbaiki semua. Tapi kita punya masa sekarang untuk membuatnya indah... :)
BalasHapusAku termasuk orang yang susah berpisah dengan masa lalu
BalasHapusg usa berpisah mba, diterima dgn ikhlas ja.. he
HapusBagusss isi tulisannya. Ngena banget mas.
BalasHapusJadi inget "masa laluuu..biarlah masa lalu, jangan kau ungkit jangann ingatkan aku.." tarikkkk... hehhehe, nice brow :)
BalasHapusMb Raida nyanyi..
BalasHapusNICE :'')
BalasHapus