Tidak Sesulit Kenyataan

Sebagian orang atau bahkan kebanyakan orang berfikir sulitnya administrasi yang akan dihadapi ketika mengurus sesuatu pada lembaga swasta atau pun pemerintahan. pembuatan Passport, SIM atau Visa misalnya. Sebelum bertindak, imajinasinya bekerja membayakan proses berbelit-belit yang akan dihadapi dalam proses pengurusan tersebut. Akibatnya,  banyak diantara mereka mengurungkan niat, atau alternatif kedua memakai tangan orang lain untuk mengerjakan keinginannya. Mungkin, yang punya uang lebih di saku bukan jadi masalah menggunakan jasa sang broker. Namun yang tidak punya? lain lagi cerinya.
Apa yang difikirkan sulit, susah dan berbelit-belit bisa jadi hanya sebatas di fikiran. Setelah dijalani dan dirasakan, mereka akan mengatakan ”Ternyata mudah ya…”. Setidaknya itu yang saya alami ketika pengurusan Visa hendak ke Cairo. Biaya yang pas-pasan menyusupkan keberanian ke dalam diri untuk mengurusnya dengan kedua tanganku sendiri. Lain halnya teman-teman saya yang lain, 99% langsung terima beres.
   
Berawal dari kemauan kuat untuk menimbah ilmu di negeri seribu menara, maka saya harus punya Visa sebagai persyaratan memasuki Negara tersebut. Untuk itu, saya mencoba bertanya proses pembuatan Visa ke teman-teman yang sudah punya. Namun, Jawaban yang banyak saya temui “Saya kurang paham”. Saya tidak kecewa dan belum menyerah sampai disitu. Setelah beberapa hari wara-wiri di mbah google dan juga sedikit informasi dari teman yang membuat visanya sendiri, akhirnya, saya menemukan sedikit titik terang.

Mendapatkan alamat embassy Mesir di Jakarta adalah titik terangnya. Mumpung nanya masih gratis, besok saya akan ke embassy menanyakan persyaratan pembuatan Visa yang lebih lengkap. Namun malam harinya fikiran sudah berfikir jauh kedepan, memikirkan sulit-sulitnya. “Besok saya akan ke embassy Mesir, disana pasti akan menemui orang arab dan bahasanya tentu arab, mau tak mau saya harus berbahasa arab sedangkan saya belum PeDe ngomong Arab, waduh gawat….” kata fikiran. perasaan takut mulai menyelimuti.

Esok harinya saya tiba di embassy, “Apa yang difikirkan sulit belum tentu sulit dikenyataan.” disitulah pertama kali saya berkenalan dengan kata-kata ini.

“Selamat siang pak..” Sapaan hangat petugas embassy setelah saya masuk ruangan. Saya disambut dengan bahasa Indonesia dari bibir orang arab. Sangat berbeda dengan fikiran dan ketakutan saya tadi malam. Saya yang awalnya deg-degan di pintu masuk, berubah menjadi rilex dan senang luar biasa. Setelah mengisi buku tamu, tak perlu banyak waktu, saya menanyakan persyaratan kongkrit dalam pembuatan visa kesalah satu staf. Pastinya masih menggunakan bahasa Indonesia.

“Apa yang difikirkan sulit belum tentu sulit dikenyataan.” Kata-kata tersebut terus terngiang-ngian di benak saat itu.

Selang beberapa hari setelah persyaratan sudah lengkap, saya kembali ke embassy untuk mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan. Sebelum keluar dari ruangan, saya menanyakan berapa hari visa bisa diambil, Jawaban yang saya terima 4-5 hari bisa diambil jika sudah diapprove dari pihak imigrasi Cairo, dan paling lambat 2 minggu. Melewati masa penantian yang cukup membuatku deg-degan. Akhirnya, Visa sudah bisa diambil. Alhamdulillah, lebih akan terasa nikmat jika kita yang menjalani proses.


#OneDayOnePost
#Minggu kedua 10 Maret 16 

1 komentar: