Cewek Bersuara Melayu

Jam 09.00 pagi hari. Aku dan Amril temanku sudah stand by di depan masjid Sayyidina Husein. Masjid yang diambil dari nama cucu nabi. Sesuai informasi dari panitia Rihlah, kami kumpul disini tepat pada jam ini. Namun, hanya kami berdua yang tampak berwatak melayu. “Ya.. dimana-dimana orang Indonesia hampir sama saja, masih setia dengan jam karetnya” gumangku dengan agak sedikit kecewa. Aku melihat sekeliling, suasana masih sepi.
Masjid Husein tidak jauh dari masjid al-Azhar, terletak di seberang jalan dengan menapaki penyeberangan bawah tanah penghubung kedua masjid. Banyak peninggalan sejarah yang di museumkan di dalam masjid ini, seperti: Sepotong pakaian nabi. Sebuah alat penghitung bulu mata milik nabi, dan konon al-Qur’an yang ditulis imam Ali dan al-Qur’an khalifah Usman ketika beliau terbunuh juga terasetkan disini. Keduanya ditulis dari kulit kijang yang tipis.

Bagian luar pintu utara masjid, berdiri kokoh menara bercorak turki  yang dapat terbuka seperti payung, mirip di masjid nabawi. Menara payung akan terbuka ketika hujan, cuaca terlalu panas. Dan ketika shalat jum’at. Disamping banyak diziarahi orang, tekhusus kaum tarekat sufi, di masjid ini juga sering diadakan peringatan hari-hari besar islam.

Tidak jauh dari menara, terdapat taman segi empat dengan rumputnya yang hijau. Di dalamnya ditanami beberapa pohon kurma sebagai khas ke Arabannya. Di luar taman, disediakan tempat duduk bermuatan 3 orang, di sebar di setiap sisi taman. Tempat peristirahatan bagi wisatawan lokal maupun asing yang datang. Di bagian timur, Sekitar 20 meter masjid, terdapat pasar Khan Khalili. Suq Mosky atau Khan Khalili menjadi kawasan perbelanjaan utama wisatawan asing. Tempat berburu cendera mata khas mesir. Mulai dari batu maupun kertas hiasan papyrus.

Sudah hampir setengah jam. Suasana mulai ramai. Pembersih taman, pemulung dan penjaja jeh mulai berkoar-koar menjajakan jualannya. Wisatawan asing mulai datang mengabadikan gambarnya dengan masjid sebagai latar. Wisatawan lokal tidak mau kalah, mereka yang biasanya datang dari provinsi luar cairo, seperti Mansura, Luxor, Bani Suef dan lainnya ikut mengabadikan gambarnya. Berfose dengan keluarga atau pun belahan jantungnya.

“Rihlah maktabah ya mas?” suara cewek melayu menghentikan pengamatanku.
Aku menoleh ke asal suara, tiba-tiba … ches … keempat bola mata kami bertemu. Aku bisa melihat wajahku di bola matanya yang bulat hitam. Cewek berwajah putih bersih, alis tebal dibalut jilbab biru menambah keanggunannya.

“Iii … I … ya Ukhti.” Pandangannya menggugupkan suaraku. Aku mengalihkan pandangan ke secarik kertas di tangannya, berusaha mengontrol diri yang sempat oleng.

“Ukhti panitianya ya?”

“Iya mas, aku salah satu panitia rihlah ini, mhon maaf atas keterlambatannya.” Aku hanya mengangguk-angguk

“Jadi kapan kita berangkat?” Kata Amril menyorotkan matanya pada wajah cewek itu.
“Kita tunggu sampai semua teman-teman kumpul.”

“Silakan lanjutkan aktifitasnya! aku kesana dulu.” cewek pamit sambil menuju kursi kosong di dekat taman. Aku mematung, hanya bisa  mengantar dengan pandangan mata menuju tempat duduknya.

Hatiku seperti sedang mekar merona, semenjak pandangan beberapa detik lalu, diriku merasa ada suatu perasaan tiba-tiba menyusup ke dalam jiwa, membuat dunia terasa indah. Pergerakan rotasi bumi seakan melambat. Hempasan angin terasa sejuk membelai rambut belah sampingku. Perasaan kecewa tadinya berubah jadi indah berbuah harapan. Harapan bisa diberi kesempatan lagi bertemu dengan cewek bersuara melayu itu.
Bersambung …

#OneDayOnePost

3 komentar:

  1. Kompor Gas! Kata pakde Indro.
    Kerenn

    BalasHapus
  2. Okey... ditunggu cerita selanjutnya... cinta pada pandangan pertama dengan cewe bersuara melayu... ehm, ehm, air mana air

    BalasHapus
  3. Maknyesss "khudul bashor, mas " suara hati . Di tunggu klnjutannya mas

    BalasHapus