Semburat
senja sore mengiringi langkahku pulang dari belajar Qawaid Ushul oleh salah
satu Syeikh Azhar, Dr. Atiyah. Tempat pengkajian kitab fiqih ini cuma beberapa
meter dari pintu utama kampus al-Azhar. Tepatnya seberang jalan gerbang utama
kampus, melewati beberapa toko buku kemudian belok kanan. Sekitar 10 meter
berjalan, sampailah di madyafah Ismail Adawi. Nama tempatnya.
Langkah
kaki menapaki jalan setapak samping pagar kampus al-Azhar menuju aparteman yang
letaknya sekitar 100 meter dari kampus. Kurang lebih 10 meter ke depan, bola
mataku menyaksikan seorang ibu dengan pakaian serba hitam duduk di pinggir
jalan setapak dengan menengadahkan tangan kanannya kepada setiap orang yang
lewat. Tak ada satu pun pejalan yang merogok saku atau bahkan sekedar menoleh
untuk memberi sedikit senyum. Mereka berlalu dengan acuh bak ibu itu hanya
sekedar patung di pinggir jalan.
Langkahku
semakin dekat, perasaan kemanusianku timbul, rasa kasihan terhadap ibu itu
mendorong untuk menyodorkan duit 1 pound dari saku. Namun tiba-tiba logikaku
menyanggah perasaan. “Tak usah diberi! Nanti ia ketagihan menjadi peminta-minta.
Lihat tubuhnya! ia masih sehat, masih bisa bekerja untuk menghasilkan sesuap
nasi dengan tangannya.” Tiba-tiba ingatan membawaku mengingat suatu peristiwa
yang menjadikan diriku anti memberikan uang lagi pada peminta-minta.
Di
suatu sore, pulang dari kuliah, tampa sengaja aku melihat pengemis menghitung
jumlah pendapatan hasil ngemisnya. Terlihat recehan dan kertas memenuhi kantong
plastik, ukuran plastik gula pasir. Fikiran pun langsung menerka-nerka jumlah uang
yang berada di kantong itu. Perkiraan jumlahnya lebih dari 100 pound. 1 pound sama
dengan 1.800 rupiah, ketika setiap hari pendapatannya seperti itu, dalam
sebulan ia dapat menghasilkan 3000 pound atau Rp, 5,400,000. Wow, jumlah yang
pantastik menurutku. Pendapatanku kalah banyak. Semenjak kejadian itu, logikaku
anti terhadap pengemis. Walau terkadang perasaan tetap meluluhkan logika.
Ibu
tepat berada di samping kiri. Pergulatan batin masih terjadi. “Ah … tak apa-apalah
aku berikan, siapa tahu ibu ini memang benar-benar butuh” gumamku sambil
menyerahkan duit 1 pound kepada ibu itu.
“Cuma
1 pound?” kata pengemis. Aku mengerutkan dahi, heran dengan respom yang baru
saja terdengar.
“Berikan
10 pound! kalau tidak, aku do’akan supaya tidak lulus ujian.”
Perasaan
yang tadinya iba, kasihan beruba menjadi perasaan kesal, jengkel. Aku merasa
dipalak oleh ibu ini.
“Maaf
bu, aku adanya itu saja di saku. Kalau tidak mau, ya udah kembalikan saja
lagi.”
“Mau
tidak lulus?”gertak ibu itu lagi.
“Maaf
… “ kataku sambil meletakkan tangan kanan di dada kemudian meninggalkan ibu
itu. Sebuah adat permintaan maaf di kota ini.
Aku
merasa tak perlu berdebat panjang. Aku juga merasa tak perlu takut dengan
gertakan dan ancaman seperti itu. Toh, lulus dan ujian adalah kehendek Allah,
aku hanya bisa berusaha dengan semaksimal mungkin. Lagi pula aku yakin, Allah
tidak akan menerima do’a yang buruk untuk hambanya.
#OneDayOnePost






Pergulatan batin yang sering ku alami juga, akh.
BalasHapusAda yah pengemis yang seperti itu.
BalasHapusAda pengemis seperti itu loh di batam. Dia kaya, anaknya kuliah kedoktetan di jawa
BalasHapusNyebelin ihh, senada ancaman klo UN menjelang, hhii
BalasHapusHmm... ada-ada aja ya... semoga kita dijauhkan dari sifat buruk pengemis itu.. aamiin..
BalasHapusjd inget, pernah ada pengemis dtg ke tempatku, dikasih 500 sama anakku, thn 2005, uangnya dilempar sm pengemis sambil marah marah, anakku naangis karena uangnya dilempar
BalasHapusjd inget, pernah ada pengemis dtg ke tempatku, dikasih 500 sama anakku, thn 2005, uangnya dilempar sm pengemis sambil marah marah, anakku naangis karena uangnya dilempar
BalasHapusMenyebalkan yah... Nadilla juga pernah bertemu pengemis macam tu.. hmm
BalasHapusihh.. kok gitu sih..
BalasHapusEmang bener, antara kasihan dan jengkel
BalasHapusDilema kl menemui pengemis gt
BalasHapus