Dua hari berlalu, sepi menjadi teman baik. Malam-malam terasa
panjang. Siang berlalu hampa tanpa makna. Sungguh detik-detik kulalui dalam
keterpurukan. Semangat hidup kian meredup. Bagai seseorang yang ditinggal sang
kekasih, atau seperti seorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Ya, itulah
yang aku rasakan. Tidak biasanya diriku segalau ini. Teman-teman yang merasa
dekat denganku cukup heran dengan keseharianku akhir-akhir ini. Aku yang
biasanya setiap hari cerah ceriah menjalani hari dengan semangat berbara-bara,
kini hanya banyak terdiam di atas kasur dengan mata menatap langit-langit
dengan tatapan kosong.
Hingga di hari ketiga Adi serumahku berusaha untuk mengajakku
bicara. Dengan dua cangkir kopi di tangan, la mendekatiku yang masih setia di
bawa selimut.
“Ada apa cak, aku perhatikan sudah dua hari ini terlihat
mendung di wajahmu? Dengan bahasa sedikit puitis ia bertanya. Tak heran, ia
memang dari Fakultas Sastra.
“Tak ada apa-apa.”
“Wah … pasti ada sesuatu denganmu cak, tak seperti biasanya
engkau berdiam diri seperti ini.”
“Hmn … iya cak, benaran gak ada.“
“Habis diputusin pacar ya?” pertanyaan Adi semakin
menyeramkan. Aku kenal Adi, jika aku tetap bertahan dengan pendirianku tidak
ngomong masalahku. Pertanyaanya akan semakin nyeleneh bin aneh. Khawatir pertanyaan
paling anker keluar dari mulutnya –Ceweknya sudah minta nikah, Ya?
.
Itulah pertanyaan angker dan menyeramkan buatku. Pertanyaan
itu bisa membuatku galau bukan hanya sehari atau dua hari, tapi sampai aku
menemukan calon. Boro-boro cewek minta nikah, calon aja belum ada. Bukannya aku
tidak laku atau tidak ada yang mau denganku, atau aku tidak pernah mencari,
tapi aku masih berpegan teguh pada prinsipku “Menunggu digetarkan”.
Agar pertanyaan itu keluar dari moncongnya, aku memaksakan diri untuk menyumbat mulutnya
dengan berterus terang tentang apa yang terjadi padaku.
“Cewek sudah …. “
“Iya deh cak, aku ada sedikit masalah.” Kataku memotong perkataan
Adi. Aku mendesah, hampir saja pernyataan angker itu muncul.
“Semua ini terjadi karena modem rusak Akh.”
“Walah … Cuma itu toh masalahnya, biasanya juga kamu
berbulan-bulan nga online, Cak … Cak … , punya masalah itu yang keren dikitlah,
jangan masalah yang kere gini. Putus cinta kek, kasih tak sampai kek, ditinggal
kawin atau mungkin yang paling besar ditanya ortu sudah punya calon?.”
“Dengar dulu Di … “ aku berusaha menjelaskan masalahku yang
begitu besar (setidaknya menurutku, he…)
“Masalahnya, Di …, jika modem rusak, aku tidak bisa posting
tulisan setiap hari. Jika tidak bisa posting setiap hari, aku bisa dikeluarkan
dari ODOP (OneDayOnePost). Sudah menjadi peraturan di group menulis itu,
apabila tidak bisa memposting tulisan selama 5 hari, maka harus tahu diri untuk
berpamitan dengan teman-teman yang lain. Aku tidak ingin terjadi padaku.”
“Apa sampai segitunya ya, Cak?”
“Ya begitulah kira-kira Akh.”
Suasana hening.
#OneDayOnePost
#21 April 2016






Angkut lepi ke kampus .... Wifi gratias :)
BalasHapusDi kmpus juga blum punya Wifi.. He...
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusCiee yang nggak mau berpisah dengan ODOP
BalasHapusCie... Lebih tepatnya g mau berpisah dgn bang Gilang... Ha... Ha..
HapusYa ampun galaunya ngalahin diputus sama cewek..
BalasHapusHa... Ha ... Klu cewek banyak mba... oDop cuma satu ..
Hapushahahaaha..kiraAin kenapa cak...nggak taaahunyaa modem...
BalasHapusYowalah cak..😅 kirain ada apaan..😃
BalasHapusHahaha...hayo semangat biar gak berpisah kita
BalasHapusCak Rahim, kon arek endi? 😆
BalasHapusCak Rahim, kon arek endi? 😆
BalasHapusCak rahim, cinta banget ama odop? Hihihhi
BalasHapusBukan sama Odop. Tpi sma orang2nya mba.. Hii
Hapus