Mesir merupakan salah satu Negara di Afrika. Sebelum bangsa
Mesir didatangi Arab dan Agama islam, mereka dahulu tidak memilki Agama atau disebut
paganisme. Menurut literatur yang saya baca, tahun 394 M, Kristen diakui
sebagai Agama resmi Negara menggantikan paganisme. Dan pada tahun 641 M cahaya
Islam datang dibawah komando Amru bis ‘Ash kala itu.
Islam datang dengan menawarkan ajaran kasih sayang, kesetaraan
status sosial dengan tidak dibedakannya antara si kaya dan si miskin, bos dan
bawahan. Kedudukan yang mulia dan tinggi menurutnya, hanya diukur berdasarkan
ketakwaan kepada Sang Pencipta.
Dengan ajaran Islam seperti itu, bangsa Mesir yang mayoritas
beragama Kristen Coptik dan minoritas Yahudi terasa mendapatkan angin segar
setelah lama diamuk penindasan kediktatoran Romawi. Sehingga Islam mulai
perlahan menempati hati-hati masyarakat Mesir masa itu. Sampai akhirnya, islam
menyatu ke dalam jasad dan batin mereka.
Penyatuan Islam dan Arab dalam lubuk bangsa Mesir, menjadi fenomena
yang melatar belakangi pembentukan watak dan karakter generasi Mesir
selanjutnya. Sebagaimana dalam sebuah
ungkapan “Generasi yang hidup saat ini adalah penjelmaan dari generasi
sebelumnya.”
Namun sayang, Generasi islam dan Arab ini mulai digempur
dahsyat arus modernisasi. Hal ini bisa dijumpai pada busana dan pergaulan
mereka sehari-hari. Walau gaya rok mini tak pernah saya temukan. Tetapi pakaian
serba ketat, dan make up wajah yang terkadang nampak norak sering saya jumpai.
Menurut kacamata saya, hal ini bukan sesuatu yang ganjil. Setiap
bangsa saat sekarang sedang tergopoh-gopoh menghadapi arus modernisasi
kebaratan ini. Tak terkecuali negaraku Indonesia. Saya tak perlu sebutkan
contohnya. Karena setiap kita bisa merasakan dan menyaksikan sendiri betapa
gempuran ini telah telak mengenai para generasi penerus bangsa.
Kembali lagi ke bangsa Mesir. Meskipun sejauh mana arus
medernisasi meracuni rakyat mesir, namun masih tampak kehidupan bercorak islami
ditemui di setiap pojok-pojok Negeri ini. Semburat sisa-sisa cahaya nilai agama
Islam masih terpancar dikeseharian masyarakatnya. Selama beberapa tahun
menapaki Negeri ini, setidaknya ada beberapa nilai islami yang masih saya
temui;
Pertama
Gema alunan bacaan al-Qur’an adalah musik jalanan yang banyak
saya jumpai di setiap tempat. Mulai dari kedai/warung, super market, mall,
bengkel. Juga di angkutan umum, seperti; bus, angkot bajaj bahkan motor dan
sepeda tak mau ketinggalan memasang tap player untuk mendengarkan kalam Ilahi.
Meskipun kadang juga saya mendengar musik Arab yang riuh lagi
ribut dibebarapa titik. Ya. Itulah warna-warni kehidupan. Membaca al-Qur’an pun
masih sering saya jumpai, baik di bus, kereta, terminal dan tempat-tempat
lainnya. Namun sayang, budaya membaca al-Qur’an ini mulai terkikis oleh Gadget.
Al-Qur’an yang dulunya selalu di tangan, kini tergantikan posisinya oleh
teknologi canggih itu.
Kedua
Tulisan pengingat Allah dimana-mana. Di tempat-tempat
keramaian, bus umum, mobil pribadi dan di tembok-tembok tulisan pengingat ini
banyak terpampang. Jenisnya pun beraneka ragam, mulai dari tulisan al-Qur’an,
hadits atau zikir-zikir. Bahkan sampai di gerobak-gerobak penjual sayur mayur,
es kream akan didapati tulisan seperti La Tansa Dzikrallah
(Jangan lupa mengingat Allah). Udzkurullah fintidzaarik
(Ingatlah/sebutlah Allah dalam penantianmu) dan masih banyak lagi stiker-stiker
yang mengantarkan pembaca untuk mengingat Allah.
Ketiga
Interaksi antara individu adalah hal unik lainnya di sini. Salam
dan tegur sapa senantiasa terucap ketika bertemu. Hadis “Tebarkanlah Salam”
menjadi praktik khalayak ramai. Sampai pada ketika naik bus atau angkot, salam
tak lupa mereka ucapkan ketika hendak naik.
Kaifa halak, Izayyak, Akhbarak eih adalah model sapaan
yang banyak digunakan ketika berjumpa setelah salam diucapkan. Ketiga ucapan
tersebut bermakna sama, yaitu “How are you?”.
Masih banyak saya jumpai hal unik lainnya dalam interaksi sesama
individu oleh bangsa Mesir, seperti saling melontarkan do’a. Saling menyapa
dengan ungkapan kasih sayang. Suka menolong, tidak pendendam dan hal unik
lainnya yang semua seakan memberi kesan adanya nilai-nilai islam dalam diri
mereka.
#OneDayOnePost
#28 April 2016






Wah...asyiikk ya? Jadi pengen ngrasain suasana di sana.
BalasHapusYuk ksini mba Denik...
HapusIndahnya, kapan yaaa bisa ke sana?
BalasHapusSemoga scepatnya.. Amin
HapusIndahnya, kapan yaaa bisa ke sana?
BalasHapusNegerinya Firaun??
BalasHapusBener gk mas Rahim?
Iya mas heru.. negeri Fir'aun salah satu julukannya..
BalasHapus