Kunci Sukses Hafizh Cilik

Musa La Ode, sebuah nama yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan para pecinta al-Qur’an. Si kecil yang sudah lama membuat diriku takjub, terkagum-kagum dengan kemampuannya. Aku katakan “Sudah lama”, Ya, begitulah tepatnya. Aku kagum sama si kecil Musa sejak pertama mengenalnya tampil pada sebuah ajang Hafidz cilik di salah satu Tv swasta pada bulan Ramadhan.

Kemampuannya di luar logikaku, dengan usia 7 tahun (Usia Sekarang), ia hafal al-Qur’an 30 juz. Bukan hanya sekedar hafal, tapi hafalannya mengalir seperti air, alias Mutqin. Beberapa orang bahkan ratusan orang telah menguji kelancaran hafalan yang dimilikinya dengan membacakan satu atau sepotong ayat, kemudian Musa diminta melanjutkan ayat tersebut. Dengan tenang Ia pun melanjutkan dengan lancar dan indah. Tak sampai disitu saja, Ia juga tahu nama surah dan nomor ayat dibacanya. Keren, bukan?

Melihat kemampuan spektakuler Musa, banyak yang bertanya bagaimana prosesnya sehingga ia bisa seperti itu. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa, segala sesuatu butuh proses, seorang ingin jadi penulis, seorang ingin kaya, seorang ingin hafal Qur’an, dan sederet keinginan apapun itu, semua butuh proses untuk meraihnya.

Aku termasuk diantara yang mempertanyakan proses itu. Pertanyaanku akhirnya terjawab setelah bertemu langsung dengan Musa dan Abinya La Ode di Cairo. Kunjungan Musa ke sini sebagai satu-satunya duta Indonseia dalam ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an di Syarmu Syaikh kemarin. Dalam lomba itu Musa sebagai peserta 30 juz terkecil dan termuda. Setelah melewati babak penyisihan dan babak final dengan 6 pertanyaan, Musa pun berhasil keluar sebagai juara terbaik ke-3 setelah persaingan ketat dengan beberapa peserta dari 80 Negara.

Setelah pemaparan cukup panjang dan jelas dari Abi Musa La Ode, setidaknya ada dua kunci atau bisa dikatakan resep dalam menjadikan Musa seperti sekarang.

Pertama: Mencari istri Shalehah.

Ada ungkapan mengatakan; “Didiklah anak-anakmu sebelum ia lahir.” Atau ungkapan lainnya; “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Kedua ungkapan tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya seseorang dalam memilih pasangan hidup. Bukan asal comot, lempar dadu langsung jadi. Ada beberapa kriteria harus diperhatikan. Namun, jangan terlalu milih-milih! nanti mala tak laku-laku. Jadikanlah Agama sebagai standarisasi pertama. Dapat yang cantik dan agamanya bagus. Itu lebih bagus. (he … )

Dalam al-Qur’an sendiri disebutkan seorang istri adalah “Ladang bagi laki-laki”. Artinya lahan untuk menanam benih-benih unggul. Jika tanah gersan tentu bibit enggan tumbuh. jika tumbuh, hasil bisa saja kurang memuaskan. Hal ini juga berlaku bagi perempuan, hendaknya mencari atau menerima laki-laki yang baik dari sisi agamanya. karena, sebaik apa pun tanahnya, jika benihnya kurang bagus. Tanaman yang tumbuh bisa mengecewakan, bahkan tak tumbuh sama sekali. Jadi, Harus ada perpaduan baik antara tanah yang baik dan bibit yang unggul.

Istri yang shaleh itu bagaimana?

Selain taat pada Allah dan suami, istri shalehah itu salah satunya memiliki sifat Qana’ah, sifat merasa cukup. Abi Musa memberikan uang belanja kepada istrinya 50.000/ minggu, namun, ia merasa cukup, tak ngomel-ngomel minta tambahan. Ada calon istri yang mau begitu? jika ada, berarti anda calon istri shalehah (He …)

Mengapa cuma 50.000 rupiah? Karena Abi Musa ingin memberikan perhatian penuh kepada anak-anaknya. Sehingga waktu mencari nafkah dipersempit. Detik-detik banyak dihabiskan dengan anaknya. Ia berprinsip, orang tak beriman saja diberi rezeki oleh Allah, apalagi bagi para penjaga kalam-kalamnya.

Kedua: Kedisiplinan

Disiplin merupakan sesuatu yang mutlak bagi seseorang pendamba kesuksesan. Rasulullah adalah teladan paling utama dalam kedisiplinan. Beliau disiplin dalam segala aspek, aspek kebersihan, beramal, beribadah dan lainnya. Semua itu karena Agama islam agama disiplin dan mengajarkan kedisiplinan. Dalam shalat misalnya, Adanya disiplin waktu. setiap shalat memiliki waktunya sendiri. Kapan dilaksanakan diluar waktunya tanpa sebab tertentu, shalat tidak diterima.

Pentingnya disiplin ini disadari Abi Musa dan diterapkan dengan sebaik-sebaiknya. Setiap hari Musa memiliki jadwal secara detail. Kapan ia bermain, kapan ia belajar, kapan ia menambah hafalan, kapan ia muraja’ah, kapan ia tidur. Semua telah terjadwal dengan rapi dan terperinci. Misalnya, Musa setiap harinya setelah shalat subuh sampai jam 9 pagi jadwalnya Muraja’ah. Jam 10 tidur sampai waktu dhuhur. Jam 5 sore bermain sampai waktu sebelum Magrib. Semua itu dilaksanakan dengan disiplin setiap hari. Mungkin awalnya terasa sulit. Hal itu juga disadari oleh Abi Musa. Namun, “Ala bisa karena biasa” dengan pembiasaan dan kemauan yang kuat, akhirnya jadwal itu akan menjadi tabiat dan terciptalah Musa seperti sekarang.



#OneDayOnePost
# April 18, 2016


9 komentar:

  1. MasyaAllah, luar biasa sekali... semoga istiqamah dalam kedisiplinan... aamiin...

    BalasHapus
  2. Subhanallah, saya sungguh takjub dengan cerita ini. Jadi tertampar jika soal kedisiplinan, jujur saya kurang dalam hal disiplin.

    BalasHapus
  3. Subhanallah, saya sungguh takjub dengan cerita ini. Jadi tertampar jika soal kedisiplinan, jujur saya kurang dalam hal disiplin.

    BalasHapus
  4. Jadi teringay sosok musa hafid indonesia yang meraih penghargaan internasional.

    BalasHapus
  5. ya takjub dengan MUsa
    tapi apsti ada orang tua yang hebat di belakangnya hingga Musa bisa seperti itu

    BalasHapus
  6. Iya...anak itu ya bagaimana orang tuanya.

    BalasHapus
  7. Hebat, tak ada kata yg bisa mewakili

    BalasHapus
  8. Hebat, tak ada kata yg bisa mewakili

    BalasHapus
  9. inspiratif sekali memang bang Musa .. semoga menjadi anak yang sholeh ..
    tulisannya bermanfaat nii mas, hehhe

    BalasHapus