Atmosfer
kota Cairo begitu panas. Panasnya membakar kulit-kulit. Suhu hari ini menunjukkan
angka 41 derajat Celsius. Padahal ini belum puncak dari musim panas. Biasanya puncak
penderitaan berada pada bulan Ramadhan. Suhunya tak ketulungan panasnya, ditambah
puasa menahan dahaga selama kurang lebih 16 jam. 16 jam? Apa tak salah? Di Indonesia
kan cuma 13 jam? Ya, tak ada yang salah dengan angka 16.
Di
musim panas, kota Cairo siangnya memanjang. Beda halnya ketika musim dingin,
Malam yang jadi panjang. Pada bulan Ramadhan, waktu imsak bisa dimulai jam 3
subuh dan berbuka pada jam 7 magrib. Bisa dibayangkan bagaimana penderitaan
pentadang dari Nusantara yang kulitnya sedikit sensitif dengan cuaca panas dan
yang tak terbiasa berpuasa dengan waktu lama.
Panas
di Mesir sebenarnya belum seberapa jika dibandingkan dengan panas di Negara
Sudan. Menurut informasi yang Aku terima dari teman di Sudan. Musim di Sudan cuma
dua, pertama; musim panas, kedua: musim panas sekali. (He … ) Mungkin agak aneh
kedengarannya. Namun bisa saja seperti itu. Dari beberapa teman asli sudan yang
Aku jumpai disini, semua berwarna hangus kecuali gigi. Aku yang berkulit tidak
putih-putih amat berasa putih jika berdekatan dengan mereka. (He … )
Kembali
lagi ke musim panas Mesir. Musim ini termasuk musim yang tak kusukai, membuatku
malas beraktifitas di luar rumah. Hanya keluar rumah jika memang ada keperluan
penting. Itu pun kalau amat penting. Kalau tidak, hanya di rumah berteman
dengan kipas, buku dan smartphone. Sepanjang hari terasa gerah. Terkadang jika
sudah tak tahan, aku membasahi baju kemudian memakainya lagi. Sepertinya perilaku
ini tak layak dicontoh.
Di
musim panas, emosi orang pribumi juga cepat memanas. Makanya jangan coba-coba sedikit
saja membuatnya jengkel kalau tak mau kena semprot. Akibat musim panas, Ibu –
ibu yang tiba-tiba pinsang di tengah jalan, di pasar atau di dalam bus itu
sudah biasa ditemui. Air dingin sangat berharga di musim ini.
Hanya
satu yang kusukai dengan musim panas. Jemuran cepat kering. Itu saja. Namun, setidaknya
dengan tinggal di Negara ini, aku jadi sadar dan bersyukur dilahirkan di
Indonesia. Dengan musim yang bervariasi dan semua tidak berlebihan. Jika panas
tak begitu panas, jika dingin tak membuat menggigil. Ditambah hujannya yang
begitu membuatku rindu ingin pulang. Disini hujan sepanjang tahun bisa saja tak
turun. Turun pun sangat sebentar. Intinya selalu bersyukur. Bersyukur itu
indah.
#OneDayOnePost
#27April 2016






Bener, bersyukur membuat indah
BalasHapusMkih mba telah berkunjung...
HapusBener, bersyukur membuat indah
BalasHapusSudan, musim panas dan panas sekali..jika hujan hanya bisa turun beberapa menit ya mas..
BalasHapusSalut bisa adaptasi di negeri seperti ini. Saya bayangin aja ngeri..
Mesir ada musim dingin ngga? Kalau musim panas begini..seberapa laku AC dsana? Haa...jd bayangin aja. Hehe...basahin baju dipake lagi..
ada musim dinginnya, mba, tapi belum trun salju. cuma di daerah2 tertentu saja.
HapusAc laku banget disni. apalagi Es batu.. he...
Keren... ceritanya ngalir aja.. :)
BalasHapusLucu, musim panas dan musim panas sekali hehe
BalasHapusWah gak bisa bayangin panasnya seperti apa Dan kuat nggak ya puasanya
BalasHapusmasyaa Allah.. tetap semangat kak..
BalasHapussemoga senantiasa d kuatkan
ohyaa kak ini ada sedikit koreksi hehehe
kakak d prgraf dua "pentadang"maksudnya pendatang kak?
d prgraf 5 "pinsang" mksdnya "pingsan" kak?
tetp semangat yaa ^^
salam odop
Makasih...
HapusMasih Banyak typonya.. He..
Aku yang berkulit tidak putih-putih amat... Hhhaaa
BalasHapusBilang aja sawo matang, wkwkwk
He... He... Ditulisan selannjutnya mba..
HapusKapan2 ajak aku ke Mesir to mas Rahim .. hehee
BalasHapusAyo kesini mas ... Tpi tiket beli sendiri ya... He..
HapusDisni tak ajakin nik onta.. Ha.
Ya, bersyukur tinggal di Indonesia, yang panasnya gak panas banget, hehe...
BalasHapusSy bersyukur jdi orang indonsia.. (^_^)
HapusDinikmatin mas Rahiem, suatu hari nanti panasnya Qairo begitu sangat di rindukan, apalagi makanan dan budayanya :D
BalasHapusIya .. Mba . ni lagi dinikmati panasnyaa.. He
Hapus