Hari ini nulis apa? Sebuah tanda besar mengintaiku yang sedari tadi
membuatku duduk terdiam dan termenung dengan fikiran menembus sekat-sekat
imajinasi mencari sebuah ide untuk dituliskan. Sekitar 30 menit berlalu, ide belum
juga tertemukan. diri mulai pasrah, fikiran mulai lelah, lelah berkeliling dari
ujung ke ujung, negara ke negera mencari sebuah ide postingan. (sedikit lebay. He
…)
Akhirnya, aku putuskan membuka laptop yang berada di dekatku. Folder
demi folder kuklick seperti mencari sesuatu. sedetik kemudian, sebuah folder
bertuliskan “Musik Nasyid” seakan menggodaku untuk meng-klick-nya. sepertinya dengar
musik cocok untuk merefresh otak. Aku klick. Terpampang beberapa judul-judul
lagu lengkap dengan nama album dan penyanyinya. KLICK … Alunan irama gitar
terdengar dengan indah. Kata-kata syair penuh makna terdengar dari seorang yang
bernama Aunul Rofiq Lil Firdaus atau lebih familiar dengan sebutan “Opick”.
Semisal buih di samudera
Sebanyak bintang di angkasa
Karunia yang telah kau beri
Untukku di hidup
…
Lelah mencari ia pun datang sendiri. Ide akhirnya muncul. Aku berniat
menuliskan hasil dari perenungan dari makna nyanyian yang baru saja ditangkap
indraku.
Kira-kira itulah mukaddimah dari tulisan ini. Cukup panjang dan
bertele-tela, kan? Okelah, kita langsung ke inti agar pembaca tak jenuh, letih,
bosan, lempar hp, laptop dan juga agar tulisan ini tak terlalu panjang. Ok, untuk
memulai, coba dibaca dan diresapi kembali makna dari potongan lagu diatas!,
jika sudah, kita mulai!
Karunia Tuhan kepada manusia tak terhitung banyaknya. Coba kita
telisik satu-satu. Karunia mata misalnya, dengan karunia ini manusia bisa
melihat benda-benda kasak mata, jangangkan yang kasak mata, yang tak kasak pun
bisa dilihat dalam kondisi tertentu. (Ngeri juga kan?). Dengan mata, manusia
mampu menyaksikan karya-karya Tuhan yang dilukiskannya di bumi ini. Menyaksikan
indahnya pelangi usai hujan, menikmati semburat jingga di kala senja, melihat
senyum indah ibu dan ayah.
Pindah kekarunia lain, pendengaran. Tanpa dijelaskan, manusia akan
tahu betapa besar mamfaat dari indra yang diberikan Tuhan ini. Seseorang yang
tak mampu mendengar sejak lahir, ia tak dapat menangkap suara sehingga ia tak
pernah belajar untuk berbicara. Jadilah ia bisu. Dengan telinga alunan irama al-Qur’an
bisa terdengarkan. Suara lembut nan merdu sang kekasih pun mampu dinikmati.
Karunia kesehatan juga tak kalah pentingnya. Segala makanan bisa
ternikmati oleh lidah. Menulis nyaman tanpa gangguan, Tidur nyenyak, fikiran ikut
jernih dengan fisik yang sehat. mampu beribadah sebanyak-banyaknya. Menjadikan sang
pemimpi bisa terus bergerak dalam mengejar mimpi-mimpinya.
Itu hanya secuil dari nikmat Ilahi kepada manusia yang bisa
dirasakan, belum yang tak tersadari. Sejatinya manusia dengan fisiknya telah
menggambarkan kekayaan dirinya. Mengapa tidak, jika ada seseorang yang ingin
membeli mata Anda dengan harga 1 M, Maukah Anda menjualnya? Tentu tidak. Itu berarti
kita begitu kaya. Walau manusia banyak tak sadar akan hal itu.
Manusia sibuk apa yang tidak mereka punya sehingga melupakan apa
yang dimilikinya. Lupa dengan syukurnya. Menengok ke atas lupa melihat ke
bawah. Bukankah agama kita mengajarkan untuk melihat ke bawah dalam urusan
dunia dan melihat ke atas dalam urusan akhirat? Ketika ia memiliki sepeda ia
berfikir indahnya memiliki motor, ketika motor termiliki, ia berfikir nikmatnya
berkendara dengan mobil. Begitu seterusnya. ia lupa konsep syukur untuk melihat
ke bawah dalam urusan dunia.
Memiliki smartphone tak cukup canggih bersyukurlah! Karena masih
ada seseorang yang memiliki handphone hanya mampu nelpon dan SMS, tak
punya handphone bersyukurlah! karena ada seseorang di sekitar kita yang tak
memiliki tangan. Satu lagi, jika anda jomblo bersyukurlah sedalam-dalamnya,
karena tak ada yang meteror anda untuk di jawab telpon atau dibalas SMS-nya.
(he …) Begitulah agama mengajarkan. Selalu ada cara untuk bersyukur.
Akibat kurangnya syukur, rasa iri dan dengki pun bisa timbul dalam
perjalanan hidup. Melihat saudaranya mampu meraih yang tak mampu ia gapai. Ia jadi iri bahkan dengki
terhadap saudaranya. Atau rasa tak senang menghinggapi hatinya jika sahabat
atau teman lebih baik dari padanya. Semua itu terjadi akibat kurangnya
pentadabburan atas karunia Tuhan terhadap dirinya, ia sibuk dengan karunia
Tuhan terhadap orang lain. Hidupnya pun resah gelisah dan gunda gulana.
Mari renungkan ayat Tuhan:
“… Kami telah membagi diantara mereka penghidupannya di muka bumi … “ Az-zuhruf : 32
Tuhan telah mengatur setiap nikmat yang diberikan kepada manusia
tanpa dzalim sedikitpun. Percayalah tak ada yang salah dalam pembagian nikmat tersebut.
Pertanyaannya, mampukan manusia ridhah dan bersyukur?
#OneDayOnePost
#15 April 2016
#15 April 2016






Alhamdulillah, diingatkan untuk kembali dan selalu bersyukur
BalasHapusAlhamdulillah, diingatkan untuk kembali dan selalu bersyukur
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBersyukur membuat hidup makin mujur.
BalasHapusThanks dah di ingatkan 😊
Sama-sma mba Deasy..
HapusHmm siraman rohani pagi. Dan aku nggak lempar HP kok mas
BalasHapusUntunglah mba ... Sy g tanggung jawb loh.. Ha..
HapusTulisan yang bagus.
BalasHapusYa betul. Tuhan tak pernah salah dalam pengaturan rezeki. Kitanya yang tak bisa mengatur. Jadinya tekor...hehe
BalasHapusMampukah diri ridha dan bersyukur? Renungilah...
BalasHapusKeren, jazakallahu khairan...
Sama-sma Asyka..
HapusTulisan mas Rahim ini sll nyampek pesan Dakwahnya, keren.
BalasHapusSaya nyerah nulis yg berat2 gini
Mksih ...
HapusRahim...calon pendakwah handal nih....
BalasHapusMakasih....buat renungan kita.yg terkadang terlalu byk menuntut hingga lupa cara bersyukur dan menikmati karunia Allah...nice post