Senja Sungai Nil

Jarum jam menunjuk angka 16.10 menit. Proses perkuliahan baru saja usai. Dosen beberapa detik lalu telah meninggalkan kelas kami. Aku masih terduduk melemaskan otot-otot persendian yang dua jam tegang dengan mata dan telinga fokus mencerna mata kuliah dosen Sastra Arab itu. Alhamdulillah, legahnya.

“Yud … ke Nil yuk!” ajak Farhan yang telah usai memasukkan buku dalam ranselnya.

“Ayoo … gimana Jack, kamu bisa, kan?” jawabku semangat sambil menatap Jack di sampingku.

“Sore ini aku ada janji, Sorry ya bro”

Aku terdiam sejenak dengan rauk muka datar. Aku kembali berusaha sedikit menarik kedua ujung bibir tuk tersenyum. Persahabatan kami seperti tiga sekawan dari film 3 idiots, Farhan, Raju dan Rancho. Entah siapa Farhan, siapa Raju atau pun Rancho itu tak penting, karena kita tak berbicara tentang kejeniusan, namun tentang “Persahabatan”. Jadi, Jika salah satu dari kami tak ada, serasa ada sesuatu yang tak lengkap.

“Siep … tak apa-apa, Yuk kita berangkat Far!” sambil berdiri menuju pintu keluar. Beberapa menit menyisiri Jumhuria street, tibalah kami di pinggiran sungai terpanjang di dunia. Pesona sungai Nil tidak kalah eksotis jika dibandingkan dengan pantai Mediterania di Alexandaria. Masing-masing memiliki  aura kedamaian dan ketenangan tersendiri bagi pemandangnya.

Di beberapa titik, di sepanjang pinggiran sungai, sepasang muda-mudi duduk berduaan dengan mesranya. Bergandengan dan Berpegangan tangan menatap riak gelombang sungai dengan obrolan mereka masing-masing. Aku tak menangkap getaran suara yang mereka ucapkan. Hanya rauk bahagia terpancar dari muka-muka mereka. Mungkin mereka sedang bercerita yang indah-indah, atau mungkin bercerita lucu hanya sekedar untuk melihat senyum mekar sang kekasih. Senyum yang bisa membuat mereka melayang lupa akan segalanya.

“Yud … dimana-mana muda-mudi yang dilanda cinta sama ya?” kata Farhan padaku.

“Maksud kamu?” tanyaku untuk lebih memahami lagi maksud dari pernyataan Farhan, sepertinya ia dari tadi juga sedang memperhatikan muda-muda yang asyik bercengkerama.

“Senja menjadi waktu indah bagi mereka untuk bertemu, duduk bersama, saling menatap, bercerita yang indah-indah, berbagi senyum. Seakan senja diciptakan untuk mereka sebagai tempat memenuhi hati dan fikiran dengan pesona sang kekasih.” Kata Farhan menjelaskan.

“Cemburu ya Far … ? bilang saja kamu cemburu karena sampai sekarang masih belum punya kekasih. Ayo ngaku aja” kataku ngeledek.

“Cemburu? Nga lah bro, aku hanya miris saja menyaksikan mereka. Sungguh pengaruh gaya barat telah memporak-porandakan moral muda-mudi kita. Coba lihat muda-mudi yang berduaan itu!” kata Farhan sambil memandang dua muda-mudi yang sedang bermesra-mesrahan. Aku mengikuti apa yang sedang diperhatikan bola matanya.

“Lihatlah cewek itu! Walaupun ia memakai hijab namun seakan ia tak memahami arti dari hijabnya. Bukan kah hijab untuk menjaga kesucian diri? Namun dengan berduaan seperti itu, kesuciannya, dan cap kewibaannya sebagai perempun yang menjaga diri artinya telah hilang, bukan?”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar petua Farhan hari ini. Bagi perempuan, malu adalah pusaka paling berharga yang dimilikinya. Jika rasa itu telah hilang, maka seperti itulah mereka, berduaan yang bukan mahram sudah dianggap biasa-biasa saja, tak punya pasangan dianggap tak kece. Sungguh ironi memang muda-mudi sekarang, mereka menganggap adanya romantisme sebelum akad terucap.

“Ya .. Rab lindungilah aku darinya.” Lirihku.

Dipinggiran sungai nil aku hanya berharap, suatu saat diriku bersama kekasih halalku menikmati matahari senja merona, merasakan semilir angin pencipta kedamaian, mendengarkan irama riak gelombang sungai sambil bercengkerama mesra dengan sang bidadari tak bersayap itu.


#OneDayOnePost
#April 14, 2016

9 komentar: