Kegalauan yang Lain

Aku dan Farhan di ruang tunggu stasiun kereta bawah tanah. Menunggu bongkahan besi berlari yang akan membawa kami ke rumah usai perkuliahan sore ini. Sekilas ada yang beda dari rauk muka Farhan. Aku bisa menebak, pasti ada yang mengusik hati dan fikirannya, tak biasanya ada mendung bertengker di wajahnya. Apalagi kalau bukan masalah cinta. Usia remaja memang sangat rentan dengan galau jenis ini. Tebak batinku.

Sebenarnya galau tentang cinta bukanlah suatu yang klasik lagi di dunia ini, sejak manusia diciptakan sampai sekarang, kegalauan ini menempati posisi tertinggi dari penelitian pendek yang aku lakukan. Bahkan kabarnya, kegalauan pertama yang ada adalah kegalauan tentang cinta.

Menurut sejarah yang aku sendiri tak tahu sumbernya. Ketika Adam selesai diciptakan, ia ditempatkan di surga. Di surga ia melihat sekitarnya hidup berpasang-pasangan, ia melihat binatang memiliki pasangan, karena iri, ia memandang ke langit, sekali lagi kedua bola matanya menyaksikan burung-burung terbang menari bersama pasangannya.

Adam pun galau, ia merasa kesepian tanpa adanya cinta yang mengisi hatinya. Akhirnya diciptkanlah Hawa untuk mengisi ruang yang kosong itu.

“Kenapa bro, kok lesu gitu mukanya? Tanyaku ke Farhan membuka obrolan.
“Aku galau, bro.”

“Wah … galau kenapa, nih? Pasti tentang si Bunga?

“Iya bro, aku sudah ingin nikah tapi belum kesampaian. Kamu tahu sendirikan hubungan aku dengan bunga sudah lama, aku sudah ingin menghalalkannya, namun orang tua menginginkan aku selesai kuliah. Aku sudah beberapa kali ngomong kepada orang tua, tapi mereka tetap kekeh dengan perkataannya,”

“Berarti kamu harus sungguh-sungguh belajar agar bisa selesai cepat.”

“Nah itu dia, bro, aku ragu bisa selesai cepat. Tahu sendirikan bagaimana belajar di Mesir ini, kita tidak bisa menebak bisa lulus cepat atau tidak, aku sendiri ragu terhadap kemampuanku sendiri, rasanya … “ ia menarik nafas, sepertinya ada kata-kata berat ingin dihempaskan.

“Aku ingin mundur saja,”

“Maksudmu putus? Tanyaku sedikit kaget.

“Ia, begitulah. Tapi …. “ Farhan berhenti sejenak.

“…. kayaknya sudah tidak mungkin lagi. Kami sudah kenal lama, seluruh keluarga besarnya juga sudah tahu tentang hubungan kami. Apa kata mereka jika hubungan kami tiba-tiba kandas?”

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala berusaha menemukan solusi. Namun ternyata pengalamanku belum sampai kesana, belum ada solusi yang bisa aku berikan. Tapi cukuplah aku hanya menjadi pendengar yang baik. Bukankah orang menyampaikan masalahnya bukan selalu bermakna ia meminta solusi, bukan?

Hening. Metro sudah berada di depan kami.



#OneDayOnePost

1 komentar: