Pesawat landing di Bandar udara Kuala lumpur. Setelah keluar dari
pesawat, aku tatap sekeliling, wajah-wajah baru mewarnai kornea mataku. Dengan
bekal bahasa Inggris yang kumiliki, Aku mulai mencari tempat chek-in
melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.
30 menit berlalu, aku belum menemukan yang aku cari. Nanya sini,
nanya situ, tapi jawaban yang aku dapat tidak dipahami, hasiknya nihil. Hanya
gelengan kepala yang terus diperlihatkan dari tempatku bertanya. Aku istrahat
sejenak, perasaan mulai cemas, keringat dingin mulai menyapa kulit khawatir
ketinggalan pesawat.
Tiba-tiba terlihat sebuah kereta berhenti di depanku, orang di
sampingku masuk. Tanpa fikir panjang “Bismillah… “ aku pun ikut. walau aku
tidak tahu sama sekali tujuan kereta ini.
Setelah kereta berhenti di bandara selanjutnya, mataku tertuju kepada seorang perempuan berpakaian
almamater layaknya petugas bandara, memakai jilbab orange gelap dengan rok
hitam. tingginya sama denganku, perkiraan seumaran denganku juga. Aku
menghampirinya.
“Where I can boarding Oman Air?”
Tanpa kata-kata perempuan ini mengankat tangan kanan, mengepalkan
jarinya dengan ibu jari menunjuk ke orang sebelahnya. spontan aku paham bahwa
yang aku cari berada di sebelahnya.
“Alhamdulillah … I get it. Aku seperti musafir di padang pasir yang
menemukan air.“
Setelah mendapatkan boarding pass, aku kembali ke perempuan tadi.
“Thank alot of.”
“Same-same.” Spontan aku menebak ia orang asli sini. Dia menjawab
dengan bahasa melayunya. Mungkin, ia melihatku bermuka Asia yang mempunyai
nenek moyang sama dengannya.
Khawatir ketinggalan pesawat, aku segera pamit diri menuju ruang
tunggu dengan perasaan gembira tak terlukiskan. Ruang tunggu Gate 9 terlihat
padat. Hanya beberapa menit menyandarkan bahu, suara panggilan terdengar untuk
menaiki pesawat.
“Alhamdulillah hampir saja.”
****
Dua jam berada di atas pesawat.
“Attention please, all massengger few minutes later we will landing
in the Cairo Airport.” terdengar bunyi dari speaker.
Padanganku tertuju pada jam digital pesawat di depanku. waktu
menunjukkan 16.40. Aku melihat jam tangan, jarum jamnya masih menunjukkan 11.40
siang hari.
apakah aku bermimpi?
Tiba di pintu pesawat, belaian angin padang pasir menerpa wajahku. Aroma
sahara mulai tercium. Aku melihat sekiling, terlihat aktifitas sibuk para
pegawai bandara. Namun ada yang beda dengan fostur tubuhnya, mereka tinggi
besar, hidung mancung, sesekali terdengar suara bukan bahasaku. Aku menghela
nafas
Tidak… tidak aku tidak bermimpi….
Senja Cairo menyambutku, kota Cairo lagi asyik menikmati sejuknya
musim gugur. Ya Rabb… Aku benar-benar sudah berada di Negeri Seribu menara,
Negeri para Nabi dan para Ulama. Tak henti-hentinya syukur kepada-Mu atas
nikmat ini. Perasaan haru, bangga, Syukur akan anugerah dan didikan tuhan
kepadaku.
“Ahlan wa Sahlan fi Ardhinaa
Masr”






Kereeen bisa sampai ke Kairo,,bagi cerita lagi ya, sehari-hari di Kairo...f
BalasHapusKereeen bisa sampai ke Kairo,,bagi cerita lagi ya, sehari-hari di Kairo...f
BalasHapusMasyaAllah, selamat berjuang, kawan...
BalasHapusPerjuangan yang indah...