Perjalanan ke Cairo (Part 2)

Pesawat landing di Bandar udara Kuala lumpur. Setelah keluar dari pesawat, aku tatap sekeliling, wajah-wajah baru mewarnai kornea mataku. Dengan bekal bahasa Inggris yang kumiliki, Aku mulai mencari tempat chek-in melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.



30 menit berlalu, aku belum menemukan yang aku cari. Nanya sini, nanya situ, tapi jawaban yang aku dapat tidak dipahami, hasiknya nihil. Hanya gelengan kepala yang terus diperlihatkan dari tempatku bertanya. Aku istrahat sejenak, perasaan mulai cemas, keringat dingin mulai menyapa kulit khawatir ketinggalan pesawat.
Tiba-tiba terlihat sebuah kereta berhenti di depanku, orang di sampingku masuk. Tanpa fikir panjang “Bismillah… “ aku pun ikut. walau aku tidak tahu sama sekali tujuan kereta ini.
Setelah kereta berhenti di bandara selanjutnya, mataku  tertuju kepada seorang perempuan berpakaian almamater layaknya petugas bandara, memakai jilbab orange gelap dengan rok hitam. tingginya sama denganku, perkiraan seumaran denganku juga. Aku menghampirinya.
“Where I can boarding Oman Air?”
Tanpa kata-kata perempuan ini mengankat tangan kanan, mengepalkan jarinya dengan ibu jari menunjuk ke orang sebelahnya. spontan aku paham bahwa yang aku cari berada di sebelahnya.
“Alhamdulillah … I get it. Aku seperti musafir di padang pasir yang menemukan air.“
Setelah mendapatkan boarding pass, aku kembali ke perempuan tadi.
“Thank alot of.”
“Same-same.” Spontan aku menebak ia orang asli sini. Dia menjawab dengan bahasa melayunya. Mungkin, ia melihatku bermuka Asia yang mempunyai nenek moyang sama dengannya.
Khawatir ketinggalan pesawat, aku segera pamit diri menuju ruang tunggu dengan perasaan gembira tak terlukiskan. Ruang tunggu Gate 9 terlihat padat. Hanya beberapa menit menyandarkan bahu, suara panggilan terdengar untuk menaiki pesawat.
“Alhamdulillah hampir saja.”
****
Dua jam berada di atas pesawat.
“Attention please, all massengger few minutes later we will landing in the Cairo Airport.” terdengar bunyi dari speaker.
Padanganku tertuju pada jam digital pesawat di depanku. waktu menunjukkan 16.40. Aku melihat jam tangan, jarum jamnya masih menunjukkan 11.40 siang hari.
apakah aku bermimpi?
Tiba di pintu pesawat, belaian angin padang pasir menerpa wajahku. Aroma sahara mulai tercium. Aku melihat sekiling, terlihat aktifitas sibuk para pegawai bandara. Namun ada yang beda dengan fostur tubuhnya, mereka tinggi besar, hidung mancung, sesekali terdengar suara bukan bahasaku. Aku menghela nafas
Tidak… tidak aku tidak bermimpi….
Senja Cairo menyambutku, kota Cairo lagi asyik menikmati sejuknya musim gugur. Ya Rabb… Aku benar-benar sudah berada di Negeri Seribu menara, Negeri para Nabi dan para Ulama. Tak henti-hentinya syukur kepada-Mu atas nikmat ini. Perasaan haru, bangga, Syukur akan anugerah dan didikan tuhan kepadaku.
 “Ahlan wa Sahlan fi Ardhinaa Masr”


#OneDayPost

3 komentar:

  1. Kereeen bisa sampai ke Kairo,,bagi cerita lagi ya, sehari-hari di Kairo...f

    BalasHapus
  2. Kereeen bisa sampai ke Kairo,,bagi cerita lagi ya, sehari-hari di Kairo...f

    BalasHapus
  3. MasyaAllah, selamat berjuang, kawan...
    Perjuangan yang indah...

    BalasHapus