Ibarat
air yang terus mengalir, WAKTU pun begitu. Ia akan terus bergerak, mengalir
mengganti detik menjadi menit, lalu mengubahnya menjadi jam. Hari berganti,
minggu datang, minggu berlalu bulan tiba. Begitulah seterusnya hingga pergantian
tahun kembali menyapa.
Aku
menyukai WAKTU, dengannya tercipta kenangan indah untuk kuceritakan kepada anak
cucuku di masa datang. Bukan! bukan hanya itu alasan kutertarik padanya, bagiku
WAKTU adalah obat, ya obat bagi hati yang telah terluka. Tak ada penyakit yang
tak bisa disembuhkannya. Jika saat ini diriku sakit hati yang sulit
disembuhkan, Aku serahkan kepada WAKTU. Seiring ia bergerak, ia akan membawa
sakitku bersamanya.
Hal
yang paling membuatku semakin jatuh cinta pada WAKTU ialah ia memberikan harapan-harapan
indah bagi mimpi-mimpiku di masa depan. Kerja kerasku saat ini tak akan
sia-sia, suatu saat WAKTU akan membawakan hasilnya jika saatnya telah tiba. Begitulah
waktu.
Aku
juga benci WAKTU, ia menciptakan kenangan pahit untuk masa tuaku. Bukan! Bukan hanya
itu alasanku tak menyukainya. Ia tak bisa terulang kembali, jam kemarin bukan
jam hari ini, hari kemarin bukan hari hari ini. Detik, menit, jam dan hari
kemarin telah berlalu. Sehingga apa yang kulakukan dahulu akan selamanya
tercatat di buku ingatan dan kenangan.
Ia
juga tak bisa ditunda, jika Aku hanya tinggal diam saat ini, hidup bermalas-malasan,
merasa tenang di zona nyamanku, maka ia akan melindas, menjadikanku jauh
tertinggal ke belakang, manjadikan budaknya hingga kumati.
"Aku
membenci WAKTU namun kujuga mencintainya"







Yeayy, kembali hadir...
BalasHapusJangan sedih atuh, kaka...
He.. he... nga ada yg sedih kok (*_^)
Hapus